Posts

Showing posts from August, 2018

Etimologi "Kabasaran": kertak orang bertempur

Image
Kabasaran Bukti ini terdapat dalam nyanyian yang merupakan bagian dari tarian perang suku Minahasa “Kabasaran”. Kata ini berasal dari bahasa Han, yakni Ga Ba Sha Ren. Artinya ‘kertak orang bertempur atau membunuh’.   Kabasaran juga dapat berasal dari bahasa Han Yü, yakni Kai Hua Sha Ren. Artinya ‘mulai gaduh orang bertempur/saling membunuh’.   Ada bagian dalam tarian perang ini dibawakan sambil bernyanyi. Kata-katanya seperti berikut ini: Nada :   7     5     6     5     5    5   32 3    . Minahasa :   ko -  ya  ke    ya   i    ko- ya ke Han Yü :   ka     i     ge    ya   yi   ka- i  ge Arti :   nyanyian kemenangan angkatlah Nada :   3    3    3    5     6 .   7 6    5    6 .  5         ...

Prof Perry: Penemuan yang menggemparkan!

KATA PENGANTAR Oleh: Prof. Dr. Perry Rumengan, M.Sn.* Adalah suatu kebahagiaan tersendiri, ketika saya dipercayakan untuk membuat pengantar pada buku PENGUASA DINASTI HAN LELUHUR MINAHASA karya Weliam Boseke, yang cukup menggemparkan ini. Sebagai seorang ilmuan, kebahagiaan ini tentunya sangat beralasan. Alasannya tidak lain, karena isi buku ini menyajikan sesuatu yang baru sebagai hasil penemuan yang orisinal, sekaligus membuka tabir yang sebelumnya begitu gelap dan kini menjadi terang benderang. Fakta baru ini akan mengubah berbagai hal tentang Minahasa, mulai dari soal asal usul leluhur, juga berbagai hal yang secara langsung atau tidak akan terkait dengan berbagai ilmu, yang karenanya hasil-hasil penemuan sebelumnya akan mengalami perubahan dan perlu dilakukan revisi. Tidak terkecuali, dengan jujur harus saya akui, berdasar penemuan ini sejumlah buku yang telah saya tulis terlebih yang menyangkut bidang saya, yakni etnomusikologi yang berbicara soal musik, dan beberapa hal me...

Temuan Weliam mulai diminati di Tiongkok

https://mp.weixin.qq.com/s/JlIBXtBC9AZAn1hadgicLA

Tetempangan

Sebagian dari tambahan tambahan pada edisi lanjutan "Penguasa Dinasti Han LELUHUR MINAHASA" adalah nama nama tempat dan family name (fam) Minahasa, misalnya:Banyak tempat di Minahasa, biasanya diperbukitan atau gunung desebut TETEMPANGAN. Sementara orang mengartikan TETEMPANGAN sebagai tempat memukat kelelawar atau paniki atau codot atau kalong atau ssu peret tumetewel. Akan tetapi TETEMPANGAN sesungguhnya menjelaskan bahwa sejak masyarakat Minahasa awal sudah ada kegiatan spionase atau pengintaian. Demi keamanan, sekelompok orang atau pasukan ditugaskan naik ke bukit untuk mengintai pergerakan atau ancaman dari pihak luar atau musuh. Sampai perang PERMESTA banyak tempat yang disebut TETENPANGAN di Minahasa dipergunakan oleh pasukan PERMESTA untuk menjadi markas aman yang tidak dapat ditembus oleh tentara pusat. Di TETEMPANGAN pasukan PERMESTA dapat dengan mudah memantau pergerakan lawan. Menurut penelitian saya, TETEMPANGAN berasal dari bahasa Han dan telah menjadi ter...

Arti dan Sejarah Fam Minahasa: WAYONG

Fam Minahasa: WAYONG Arti dan Sejarahnya 阀(閥)  勇 Wa/fa   Yǒng orang berkuasa dan gagah berani Sejarahnya: Liu Bei bertempur selama kurang lebih 30 tahun untuk menegakkan kekaisaran Han Raya, kemudian mendirikan Dinasti Han Shu dan menjadi kaisar (penguasa). Oleh karenanya dalam lagu pujian penuh hormat negara Shu, Liu bei (opanya Toar =Tou er), disebut Wa/fa yong. Tonaas Walian di Minahasa dari generasi ke generasi menyanyikan Shu ma le sung dalam setiap acara. Dari syair syair pujian pujian itulah nama orang Minahasa diambil dan kemudian dijadikan family name (fam), mengikuti nama baptis yang diberikan setelah menjadi Kristen. WAYONG (阀)勇 Wa /faYǒng 掌权的人 而勇敢 它的历史: 刘备打了超过30年的坚持皇汉王国,后来又创办了汉代书,并成为皇帝(统治者)。因此,在舒恭敬的乡村歌曲中,刘备(称为Toar = Tou er),被称为Wa / fa yong。 Minahasa的Tonaas Walian世代相传,每次都有蜀马勒唱。赞美那是米纳哈萨人的名字抒情颂歌拍摄,然后用作姓氏(FAM),成为基督徒后,下面给出克里森名。 WAYONG (fá) yǒng Wa/faYǒng zhǎngquán de rén ér yǒnggǎn tā de lìshǐ: Liúbèi dǎle chāoguò 30 nián de jiānchí huáng...

"Bahasa menunjukkan bangsa"

"Bahasa menunjukkan Bangsa." (?) Teman saya master di bidang kimia lulusan Taiwan, program doktoralnya dibatalkannya karena tawaran mesti pulang ke Indonesia bekerja sebagai tenaga ahli. Sampai pensiun dia kerja di perusahaan tekstil khusus bagian mekanisasi pewarnaan dengan standar dan prosedur kerja dan teknik yang ketat. Jelang bbrp tahun pensiun, dia sempat mendalami ilmu Akupuntur dan mendapatkan Ijin Praktik melalui UI. Sempat buka praktik hanya untuk kalangan kerabat dan keluarga saja. Saya termasuk yang pernah disembuhkannya setelah dua minggu menjalani perawatan dokter medis RS tidak berhasil. Sekitar dua minggu yang lalu saya memberikan kepadanya buku Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa karya Weliam H. Boseke, terbitan Pohon Cahaya, Yogyakarta, Januari 2018. Dengan harapan dia membaca dan memberi komentar dari sudut keahliannya. Karena dia juga praktisi bahasa Mandarin bahkan berpraktik sebagai penerjemah tersumpah yang diakui oleh Kedubes Tiongkok dan Kuasa D...

Profil singkat penulis buku Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa

Image
Profil Penulis Weliam H. Boseke lahir di Manado 15 Juli 1958. Meskipun memiliki latar belakang ilmu ekonomi dan ilmu accounting, Penulis justru berprofesi sebagai Ajun Asuransi Harta Benda dan menjadi General Insurance Consultant pada beberapa perusahaan industri. Keprihatinan akan politisasi agama yang mengancam keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD '45 mendorong penulis dan beberapa wartawan, pada tahun 2002  mendirikan tabloid Warta Kristiani. Pemilik dan direktur PT Lumen Kelung Nio yang menerbitkan tabloid untuk ikut memajukan dialog antar umat beragama dan  ikut menyuarakan pesan-pesan universal dari tokoh tokoh lintas agama di Indonesia bahkan dunia. Hasrat keinginan menjadi Penulis makin terfokus bersamaan intuisinya mulai bergema dan menuntunnya untuk mengetahui siapa orang Minahasa sesungguhnya. Terinspirasi oleh pesan Christian Wumbi  Boseke, sang ayah berprofesi guru, Penulis terus belajar apa saja secara otodidak. Penulis secara pribadi mengalok...

Ferry Doringin: Perspektif Baru Jatidiri Tou Minahasa

Buku ini memberi perspektif baru mengenai jatidiri 'Tou Minahasa'. Penulis dengan jeli menggali kekayaan budaya tradisional masyarakat, seperti Maengket, Kabasaran, serta cerita-cerita rakyat lainnya, yang bisa membuktikan bahkan menyambung teori-teori yang sudah ada sebelumnya, misalnya teori sebaran manusia kuno, teori rumpun bahasa, bahkan teori yang lebih baru lagi mengenai dinasti dan kekuasaan di Cina. Lebih dari itu, buku ini mendorong orang berefleksi mengenai kekayaan manusia Indonesia yang hidup di Minahasa Sulawesi Utara dengan segala perjuangannya untuk bereksistensi, berada sesuai dengan keunikannya. Keunikan ini, apa pun latar belakangnya, telah memperkaya keindonesiaannya. Buku ini makin menarik karena berisi cerita sejarah yang menampilkan tokoh-tokoh teladan bagi generasi muda dalam konteks pendidikan karakter dan nilai. Ferry Doringin, PhD

Max Wilar: Duc In Altum...Leluhur Minahasa, Perspektif Studi Linguistik

Dalil Weliam H. Boseke yang menyatakan leluhur Tou Minahasa berasal dari Penguasa Dinasti Han di Tiongkok (206 BC - 220 AD) merupakan kesimpulan studi linguistik yang menarìk. Sebagai misal, adagium "Si Tou Timou Tumou Tou" (ST4) yang berarti "Manusia hidup untuk memanusiakan Manusia" ternyata mempunyai padanan dalam bahasa Han yaitu "Zi Tou Tu Mou Tu Mou Zi Tou"  yang artinya "Tunas Manusia tumbuh menjadi manusia seutuhnya untuk memanusiakan seutuhnya tunas manusia yang lain" (h.77). Studi linguistik Weliam H. Boseke yang telah jadi buku dengan judul  "Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa" bercerita tentang asal usul leluhur Tou Minahasa. Sebuah studi linguistik yang menarik laksana memanggil Tou Minahasa agar "Duc in Altum" yaitu bertolak ke tempat yang lebih dalam. Max Wilar Tou Minahasa Kawanua Informal Meeting (KIM)

Prof. Riris K. Toha: Penulis Leluhur Minahasa memperlihatkan mentalitas dan moralitas baik dan kuat, tanpa harus bergelar berjejer...

Memang hebat usaha ini. Semoga buku ini bisa membukakan mata masyarakat Indonesia pada apa yang sesungguhnya dimilikinya. Kemungkinan tak terhingga yang bisa diraihnya jika ia memiliki mentalitas dan moralitas yg baik dan kuat. Tanpa harus bergelar berjejer dia bisa berpikir, meneliti, menemukan, dan menyatakan siapa dirinya: seperti terbaca dari buku ini. Dengan buku ini, kiranya kita bisa berkaca dan saksikan bukan hanya siapa kita, tetapi terlebih pada apa yang kita punya, kekayaan budaya, kekuatan ganda yg melahirkan  bangsa -masyarakat- kita. Buku ini adalah inspirasi dan dorongan alamiah pada pengertian tiadanya yg sesungguhnya baru dan murni di bawah matahari. Kita semua terkait dengan atau budaya kita dengan demikian bahasa kita, ada hubungan dan turunan dari budaya serta bahasa (yang lain), tetangga kita, dari entah mana. Kita tak terpencil. Kita bersaudara. Kita adalah bagian dan anggota dunia yg mendamba sejahtera dan persaudaraan. Riris K. Toha Sarumpaet Guru Bes...

Mayjen Ivan Pelealu: Memperkuat identitas budaya Minahasa memmperkuat fondasi kebudayaan Nasional NKRI

Pada hakikatñya apa yang disebut kebudayaan nasional Indonesia berdiri pada kebudayaan daerah-daerah di nusantara. Semakin jelas identitas suatu entitas suku bangsa makin kokoh dasar budaya daerah tersebut, dan secara bersamaan memperkuat fondasi dan benteng kebudayaan nasional bangsa Indonesia. Maka strategi budaya nasional demi eksistensi dan kemajuan peradaban bangsa mesti melewati sebuah hermeneutika berbasis norma dan nilai yang telah menjadi konsensus, yang sudah melewati dialektika dengan realitas kehidupan sebagai satu bangsa majemuk dalam pelbagai konteksnya. Terlepas dari teori dan keyakinan mitologis yang sudah ada di Minahasa, temuan berupa bukti-bukti faktual yang dituangkan dalam buku ini patut diapresiasi dan diberi kesempatan untuk tampil dalam mimbar akademis dan publik luas. Selain menambah khasanah perspektif dan kejelasan realitas budaya masyarakat serta mempertajam orientasi nilai budaya, terutama juga dalam kerangka memperkuat identitas budaya Minahasa itu s...

Benni Matindas: Waruga, Bukan Kuburan (belaka)!

W A R U G A Waruga [atau yang di beberapa wilayah lain di Minahasa disebut: Timbuka] adalah wadah anggota keluarga yang meninggalkan dunia menuju Kasendukan. Bukan kubur —atau setidaknya: semula [sebelum dipengaruh ajaran Kristen dan budaya Barat] tidak dimaksudkan sebagai “kubur”— karena adat leluhur tou Minahasa tidak mengenal konsep pengakhiran total kehidupan tou dengan menghilangkannya dari permukaan bumi. Kematian adalah awal perjalanan kembali ke asal, kembali ke Kasendukan, atau Sinayaman, atau Kainawa’an [—ada sejumlah nama/sinonim untuk menyebut Sorga atau Asal Segala-galanya; ini menunjukkan bahwa sistem religiositas masyarakat Minahasa tua sudah berkembang sangat signifikan]. KEMATIAN, dalam sistem kepercayaan Minahasa tua, memang bukan akhir segalanya; itulah mengapa ke dalam waruga dimasukkan beras, padi, makanan, pisau, dan lain-lain, sebagai bekal, bahkan diikutkan pula pelayan atau para pelayan untuk melayani anggota keluarga yang pergi melakukan perjalanan.  ...

Waruga, Situs Peradaban Dunia yang Terabaikan

Ada apa gerangan yang sedang terjadi di tanahku Minahasa? Tanah para leluhur, se matuari wo se tonaas dari generasi ke generasi! Bumi air udara para ksatria pejuang yang penuh dinamika dan harmoni dari masa ke masa... Apa mengapa bagaimana memperlakukan sebuah situs sejarah budaya kita? Apa rujukan nilai normatif sebuah sikap dan tindakan? Apa tindakan strategis yang mesti dilakukan? Antara masa lalu dan masa depan, antara nilai dan praktik lapangan, siapakah manusia Minahasa dalam ruang dan waktunya yang tak tergantikan? Praksis budaya masyarakat Minahasa yang adi luhung memang nyanda lapas dari dinamika  deng harmoni yang mesti digumuli dan dimenangkan voor hakikat dan keberadaan peradaban, kemajuan dan kelangsungan masyarakat Minahasa, bukan hanya yang ada di lokasi tersebut bahkan di seluruh pelosok bumi ini, bahkan dari lintas masyarakat budaya lain! Nda usah jaoh2 toh torang pe anak2 sekolah mo belajar tentang situs dan artefak kuno  sampe ke Mesir atau Persia, ...

Waruga oh kasiang rumah jiwa leluhur Minahasa

Rumah Jiwa Terkapar Terhempas Hanya puing Berserakan Tiada arti Minus nilai Apa apa apa Siapa siapa siapa Kembung perut Terburai pamer Congkak otot Pendek akal Kurang adab Apa apa Siapa siapa Adoh kurang modapa toki stow Baru sadar dan tergerak Bergerak Terlambat sudah Kini kau sadari? Oh rumah jiwa Apa siapa Lirih diakui Sosok sejarah Ada menjadi Keluar dari kandung bunda Kembali ke rahim semesta Lingkaran hidup mati Peradaban tou Minahasa Lampau tak tak tergantikan Kini rusak dirusak menghilang Masa depan generasi Hendak kau sambut dengan apa? Oh rumah jiwa... Mengapa Bagaimana Untuk apa semuannya? Generasi di depan Akan menjawab Menagih atau Melupakan? Mestikah memilih Bila kepastian itu Melekat nurani tulus? Apa yang akan terjadi nanti Jawaban ditentukan sekarang! Siapa mesti menjawab? @@@@@@@ Coretan di atas adalah jawaban nurani atas gugatan pelbagai lapisan masyarakat dan para tokohnya, salah satunya terungkap dalam ...

Max Wilar: Waruga dihancurkan secara "biadab"

REFLEKSI. Suatu waktu di masa lalu Gubernur Sulawesi Utara Mayjen (pur) HV Worang memindahkan sebuah Waruga di perhumaan Nawanua yang masuk wilayah kepolisian Kakaskasen di Tomohon. Waruga tersebut  diklaim sebagai rumah jiwa leluhur (Opo) Worang. Waruga dipindahkan dengan adat dan adab yang patut hingga kini berada di tepi jalan dekat Biara Karmel Kakaskasen Tiga, Kec. Tomohon Utara. Jalan yang tak bernama pun diberi nama Jalan Opo Worang hingga kini. Pemindahan Waruga oleh Gubernur Worang waktu itu sebagai jawab budaya terhadap panggilan keluhuran. Gubernur Worang sudah berpulang. Waruga Opo Worang hingga kini jadi kenangan dan obyek wisata. Waruga Kina'angkoan dan Waruga Pinandean di desa Kawangkoan dan Kuwil, Kecamatan Kalawat, Minahasa Utara adalah kisah tragis. Dirusak dan dihancurkan secara "biadab" menurut literasi August Parengkuan wartawan senior Kompas dan mantan Duta Besar RI di Italia. Waruga bukan sistim kepercayaan tapi sejarah adab dan peradaban tou ...

Kisah Adam dan Hawa dan Mitologi Manusia Pertama Minahasa

Tabea Tabae Senang rasanya bisa mencari tahu lebih dalam identitas kita manusia Minahasa. Gnouti sauton, kenalilah dirimu, kata filsuf Yunani kuno. Mengenali identitas diri adalah bagian penting mencari landasan dan arah pembangunan manusia seutuhnya. Sesungguhnya kita mesti jujur dan terbuka bertanya, siapa dan darimana asal usul leluhur Minahasa?Ada banyak teori dan versinya. Malah tentang cerita Toar Lumimuut yang sudah melegenda itu di kalangan masyarakat, ternyata ada lebih banyak versi bahkan mencapai seratus versi. Cerita mana yang benar dan salah? Para ahli menyebutnya sebagai mitos atau cerita yang tidak mesti bisa dibuktikan benar tidak fakta kejadiannya. Bukan soal benar salah. Karena itulah salah satu tahap perkembangan dalam peradaban manusia. Inilah jaman di mana mitologi menjadi sebuah cara untuk menjelaskan realitas. Pada jaman masyarakat saat itu, begitulah yang ada dalam pemahaman dan itulah yang mempengaruhi pola pikir, pola rasa, dan tindakannya. Nah, dalam...

Max Wilar: "Dalil Boseke Memfalsifikasi Mitologi Leluhur Minahasa"

Salah satu sumbangan besar dari penelitian Welliam Boseke adalah memfalsifikasi teori yang dibangun atas dasar mitologi tentang Lumimu'ut dan To'ar yang dipandang sebagai Ibu dan Anak. Bila pandangan tersebut terus dibenarkan maka tak terhindarkan lahir pandangan hubungan sumbang (Inses, Inggris: incest) yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga. Justru Boseke memastikan dalam penelitiannya selama 10 tahun di Tiongkok bahwa Lumimu'ut dan To'ar adalah dua pribadi historis yang tidak terhubung dalam ikatan keluarga. To'ar menurut Boseke bukan anak dari Lumimu'ut tapi putera Liu Shan (A Tou) pewaris tahta Liu Bei, anak pendiri Dinasti Shu. Sedangkan Lumimu'ut bukanlah Ibu dari To'ar. Lumimu'ut adalah anak dari anak dari pasangan Liu Bei dan Permaisuri Wu. Lumimu'ut berasal dari bahasa Han yaitu Liu Mi Mu Wu Ti. Sedangkan To'ar berasal dari Tou Erl yang artinya Anak A Tou. (Hal.53). Jadi berdasarkan dalil Boseke tersebut ...

Synopsis of The Ruler of Han Dinasty: Minahasan Ancestors

The Ancestors of Minahasa Fantastic!!! Yes, the book you’re reading right now opens the dark veil of ancestors of Minahasa. The author will guide you step by step to trace back the original identity of Minahasan people. Using historical comparative linguistic and by understanding the technique/the way of reading Pin Yin, the author will accompany readers to understand so many important words in Minahasan Language, which were not only absorbed language, but in truth were originated from Chinese language, that had changed not only in structures and forms, but its syllables still indicates the words of origin. In some cases, it had changed in forms, syllables and meanings, due to influence of other languages. The readers will be amazed and touched when hearing and understanding the content and context of The Song of Karema (sang by Tonaas Walian in traditional ritual ceremonies), containing big secret about deep and undivided soul connection between children offspring and their ance...

Burung Manguni dan Local Wisdom Leluhur Minahasa

Tulisan ini menjawab tulisan singkat tokoh Kawanua Informal Meeting. Max Wilar menulis dalam status FB hari ini: "Siapa yang mendengar suara Manguni malam ini silakan ceritakan waktu dan lokasinya." Kelanjutan dari tulisan beliau sebelumnya yang bernada satir atas kepongahan manusia pelaku intelek dan tindak "kebiadaban" terhadap pemindahan situs waruga dengan cara2 yang semena-mena itu. -------------- Orang Minahasa Mesti Tahu Manguni adalah simbol hewan yang diistimewakan  oleh orang Minahasa sejak jaman dahulu sampai sekarang. Mengapa demikian? Dalam edisi lanjutan buku Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa,   Weliam H Boseke menjelaskan sebagai berikut: nama "manguni" berasal dari bahasa Han. Dalam teks literatur bahasa Han, burung manguni dihubungkan dengan keadaan BRIGHT = cerah atau cemerlang. Kata WANG YUN = MA WANG YUN NE, artinya: sudilah memberi tanda cemerlang atau cerah. Dalam bahasa Minahasa MAWANGUNE = MANGUNE = MANGUNI. Ketika Pemim...

Mawangune mangune manguni

“Manguni” is a symbol of an animal favoured by Minahasan people since ancient days until now. Why is that so? In the subsequent edition of “The Rulers of Han Dynasty: Minahasan Ancestors,” Weliam H. Boseke explains as follows: the name of “Manguni” was derived from Han language. In Han literature, Manguni bird was attributed with a condition of bright or brilliant. The words “WANG YUN = MA WANG YUN NE” meaning “be willing to give a sign of brilliant or bright.” In Minahasan language, called as “MAWANGUNE = MANGUNE = MANGUNI.” When ceremony leader / Minahasan culture rite, “Walian” (“Hua li an”) calls Manguni, the bird will fulfill the call by giving sounds from afar, and then Walian will ask the bird to come near, while shouting: “Mangune.” When the bird comes near and answers by giving melodious sounds nine times, Walian shouts, “Siou pa siou wan,” which was derived from Han language, “Jiu pa jiu wan” = 9.890.000 as an expression of the highest rank of king (“Xian Wang” = “Sien Bo...

Cerita di balik publikasi buku Leluhur Minahasa

Publikasi buku Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa terbitan Pohon Cahaya, Yogyakarta, Januari 2018 ini begitu fenomenal dan menimbulkan pro kontra. Diakui atau tidak, faktor persepsi orang, termasuk kaum akademisi tertentu, terhadap latar belakang penulis buku yang bukan dari tradisi akademis cukup terasa. Nampak ada nada skeptis, apakah yang memungkinkan seorang Welliam Boseke menemukan rahasia asal usul bahasa Minahasa. Sikap ragu dan cenderung anggap sebelah mata ini mulai berubah, misalnya ketika kita sadari bahwa banyak kata dan ungkapan kuno yang sejak awal mulai dituliskan, ternyata tak bisa dipahami lagi bahkan oleh mereka yang mendaku dan didaulat sebagai ahli bahasa Minahasa itu sendiri. Penulis berhasil membantu para ahli menyingkap, menyambung, meluruskan apa yang hilang, putus, dan bengkok dalam memahami asal usul dan arti bahasa asli Minahasa. Tak diragukan lagi akan ada cukup kajian ilmiah bahkan hanya dengan memakai logika sederhana untuk memahami pelbagai bukti t...
Publication of “The Rulers of Han Dynasty: Minahasan Ancestors,” published by Pohon Cahaya Publisher, Jogjakarta, in January 2018, was so phenomenal and elicit the pros and cons. Whether it was acknowledged or not, people’s perception was quite noticeable, including from a certain group of academics, due to the author’s background who was not from academic tradition. Some were sceptics, was it possible for a Welliam Boseke to found the secret of Minahasan origin? Doubtful attitude and inclination to look with disdain eventually will change, for example when we realize that there are many ancient words and expressions written since early ages, in fact can’t be understood even by people regarded and claimed themselves as Minahasan linguists. The author has succeeded in helping the linguists uncover, connect, straighten what are missing, broken, and crooked in order to understand origin and meaning of Minahasan language. Without doubt there would be enough scientific studies, even jus...

Resensi Buku Leluhur Minahasa Penguasa Dinasti Han

Resensi Buku Judul: Penguasa Dinasti Han, Leluhur Minahasa Penulis: Weliam H. Boseke Penerbit: Pohon Cahaya, Yogyakarta ISBN: 978-602-5474-41-5 Tahun: 2018, cetakan ke-2 (Februari) Tebal: 330 hlm. bookpaper A5 ***×*** Menggemparkan. Ya, buku yang anda baca ini membuka tabir gelap tentang Leluhur Minahasa. Bertahap penulis menghantar anda menelusuri identitas asali manusia Minahasa. Weliam Boseke seorang otodidak dan bukan berlatar belakang akademisi formal, bermodalkan penguasaan bahasa Han dengan baik dan bahasa Minahasa cukup dalam serta didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat tertarik meneliti untuk menemukan siapa sebenarnya leluhur Minahasa yg sampai kini masih berbentuk dongeng namun sangat dipercaya.  Cara Weliam Boseke mendapat data dengan berjalan dan mengumpulkan fakta dan bukti2 riil di lapangan baik yg ada di negeri Han maupun di Minahasa, dan dia mencoba mencari benang merah hubungan keduanya dengan bahasa sebagai alat pembedah. Cara yg dibuat Weliam dap...