Prof Perry: Penemuan yang menggemparkan!
KATA PENGANTAR
Oleh: Prof. Dr. Perry Rumengan, M.Sn.*
Adalah suatu kebahagiaan tersendiri, ketika saya dipercayakan untuk membuat pengantar pada buku PENGUASA DINASTI HAN LELUHUR MINAHASA karya Weliam Boseke, yang cukup menggemparkan ini. Sebagai seorang ilmuan, kebahagiaan ini tentunya sangat beralasan.
Alasannya tidak lain, karena isi buku ini menyajikan sesuatu yang baru sebagai hasil penemuan yang orisinal, sekaligus membuka tabir yang sebelumnya begitu gelap dan kini menjadi terang benderang. Fakta baru ini akan mengubah berbagai hal tentang Minahasa, mulai dari soal asal usul leluhur, juga berbagai hal yang secara langsung atau tidak akan terkait dengan berbagai ilmu, yang karenanya hasil-hasil penemuan sebelumnya akan mengalami perubahan dan perlu dilakukan revisi. Tidak terkecuali, dengan jujur harus saya akui, berdasar penemuan ini sejumlah buku yang telah saya tulis terlebih yang menyangkut bidang saya, yakni etnomusikologi yang berbicara soal musik, dan beberapa hal menyangkut tradisi Minahasa harus direvisi.
Saya mengatakan bahwa buku PENGUASA DINASTI HAN LELUHUR MINAHASA karya Weliam Boseke benar-benar menggemparkan. Mengapa tidak, karena hal yang tertutup dan rahasia selama kurang lebih hampir 2000 tahun, dan sampai saat ini begitu rahasia, begitu gelap, serta yang umumnya selalu masih dikatakan sebagai suatu legenda atau dongeng, bahkan oleh sejumlah kalangan dikatakan sebagai sesuatu yang tahyul, kini mulai terkuak dan menjadi nyata sebagai fakta sejarah.
Beberapa pertanyaan sangat besar yang belum terpecahkan kini mulai terbuka, terlebih khusus hal-hal yang berhubungan dengan antara lain:
1. Siapa leluhur orang Minahasa sebenarnya?
2. Apakah leluhur Minahasa lahir di tanah Minahasa ini atau berasal dari negeri lain?
3. Apabila berasal dari negeri lain, tepatnya dari negeri mana?
4. Apakah kisah Toar dan Lumimuut adalah satu legenda atau dongeng semata, atau kisah yang benar-benar nyata?
5. Benarkah Toar dan Lumimuut adalah leluhur orang Minahasa?
6. Benarkah Toar dan Lumimuut adalah anak dan ibu yang nikah, sehingga orang Minahasa dikatakan sebagai turunan dari perkawinan antara anak dan ibunya?
7. Benarkah bahasa Minahasa memiliki kesamaan dengan bahasa Tiongkok dalam hal ini bahasa Han atau bahasa yang digunakan dalam dinasti Han? atau malahan bahasa Minahasa tersebut adalah bahasa Han itu sendiri, namun telah mengalami perubahan dalam bentuk dan struktur, sekalipun secara fonetik masih memiliki kesamaan?
8. Kalau benar bahasa yanga digunakan orang Minahasa adalah bahasa Han, apakah sebelum menggunakan bahasa Han orang Minahasa sudah memiliki bahasa lain sebagai bahasa milik orang Minahasa sendiri?
9. Mengapa etnik Minahasa tidak memiliki kerajaan dan orang Minahasa tidak mengenal atau tidak memiliki raja?
10. Mengapa di Minahasa terdapat nama-nama atau pun istilah seperti Toar, Lumimuut, Karema, Suminalang, Malesung, Sio Kurur, Waraney, nama-nama tempat, berbagai istilah dalam ritual-ritual tradisi, simbol-simbol tradisi, dan sejumlah kata lain demikian juga di dalam Dinasti Han ditemukan nama-nama atau istilah-istilah yang sama dan melegenda, apakah hal ini kebetulan atau sungguh-sungguh memiliki kaitan yang tidak terpisahkan.
11. Dalam hubungan dengan berbagai karakter orang Minahasa, seperti mengapa orang-orang Tondano sering dikatakan sebagai satu subetnik yang pemberani, bahkan ada yang mengatakan sebagai orang-orang yang suka berperang atau minimal orang-orang yang memiliki nyali perang? Apakah ini, kebetulan atau memang mereka memiliki darah pejuang, pemberani, atau petarung?
12. Mengapa tua-tua Minahasa, yang sebagian dikatakan sebagai ahli budaya dan ahli bahasa Minahasa, namun dalam sejumlah besar naskah dalam bahasa Minahasa terlebih dalam naskah-naskah seni atau pun doa-doa dalam ritual yang sangat sakral, tidak dapat mengerti arti dan tidak dapat mengartikan syair-syair tersebut, bahkan sekalipun sangat sering menggunakannya dengan sangat serius, akan tetapi mereka tidak memahami maksud, isi dan maknanya yang sebenarnya? Setiap kali ditanya artinya, tua-tua tersebut hanya mengatakan, bahwa bahasa tersebut adalah bahasa yang sangat dalam dan sulit untuk dipahami?
13. Apa sebenarnya arti kata atau nama Minahasa? apakah nama Minahasa memang benar dari kata yang memiliki arti “menjadi satu” seperti yang dipahami secara umum saat ini, atau kata Minahasa memiliki arti yang lain? Demikian juga dengan kata Malesung, yang katanya adalah nama daerah ini sebelum Minahasa, apakah benar memiliki arti “lesung” oleh karena bentuk tekstur permukaan tanah wilayah ini berlobang-lobang seperti lesung?
14. Dalam bidang seni tradisi, dalam hal ini Zazanin ni Karema, diakui sebagai nyanyian sakral, yang selalu dinyanyikan dalam ritual tradisi Minahasa, termasuk nyanyian-nyanyian dalam upacara Rumages (Rageshan: pemanggilan nama-nama dan arwah leluhur), nama-nama leluhur Minahasa dari berbagai penjuru mata angin dipanggil. Adapun nama-nama dan kisah yang disebutkan tersebut identik dengan petinggi-petinggi negeri Han Shu dan orang-orang mulia yang berjasa kepada negara Han Shu dari seluruh negeri bagian, termasuk kisah yang memilukan dan tragis yang telah terjadi pada negeri tersebut, (yang terjadi dalam perang Tiga Negara dan proses pengungsian dalam rangka penyelamatan anak-anak para bangsawan), apakah kesamaan ini sifatnya kebetulan, ataukah orang Minahasa justru memanggil arwah-arwah leluhurnya sendiri yang adalah leluhur-leluhur negeri Han Shu?
Buku PENGUASA DINASTI HAN LELUHUR MINAHASA karya Weliam Boseke secara menggemparkan telah menguak semua rahasia tersebut dan dengan saksama telah menunjukkan, bahwa sesungguhnya keberadaan Minahasa dan asal muasal orang Minahasa bukanlah sebagai satu legenda atau dongeng belaka, akan tetapi sebagai satu kisah nyata yang sangat riil dan merupakan fakta sejarah.
Buku PENGUASA DINASTI HAN LELUHUR MINAHASA adalah hasil dari suatu penjelajahan yang begitu lama yang memakan waktu hampir 30 tahun, yang dilakukan oleh senior saya Weliam Boseke. Buku ini telah membuka tabir dan dapat dikatakan mematahkan sejumlah besar pendapat, bahkan teori yang telah dikemukakan oleh berbagai ahli sejarah dan budaya, tokoh dan budayawan Minahasa, dan sejumlah tulisan yang pernah ditulis oleh penulis-penulis asing tentang Minahasa.
Namun sekalipun bangga, di sisi lain secara jujur saya pun perlu bekerja ekstra keras, sebab dalam pembuatan pengantar atas buku ini, saya harus membuka sejumlah literatur untuk menunjang pengantar ini. Hal ini dilakukan, tidak lain agar saya pun tidak gegabah dan terjebak dalam keikutsertaan menciptakan atau menambah jumlah legenda baru tentang leluhur Minahasa, yang nyata dan jelas dapat membingungkan generasi Minahasa di masa depan. Di satu sisi, mengarang legenda, atau cerita yang tidak sesuai dengan fakta akan membuat usaha pelacakkan tentang karakter, jati diri, serta identitas orang Minahasa semakin kabur.
Weliam Boseke bukan akademisi, saya lebih cocok menyebut beliau sebagai seorang pebisnis. Namun, hasil penelitian yang telah dilakukan begitu mencengangkan, oleh karena sekalipun dikatakan metode penelitian yang dilakukannya tidak seperti prosedur baku, yang lasim digunakan dan dilakukan para ilmuan secara umum, namun data yang ditunjukkan sangat jujur dan benar-benar sesuai fakta riil, yang karena hal tersebut maka pemaparannya sangat sulit untuk dibantah. Weliam Boseke telah mengulasnya dengan ulasan yang sangat logis.
Hal ini dapat terjadi, karena beliau benar-benar mengadakan studi lapangan dan melihat dengan sangat teliti segala fenomena dan fakta-fakta yang ada. Fakta-fakta tersebut ditemukannya sendiri, baik yang ada di negeri Tiongkok, lebih khusus di wilayah peninggalan dinasti Han Shu’ dan membandingkannya dengan kenyataan dan fenomena yang benar-benar ada di Minahasa. Bahkan, secara komprehensif Weliam Boseke telah melakukan studi banding dengan fenomena-fenomena yang ada di sejumlah negara yang diperkirakan memiliki hubungan budaya dengan Tiongkok seperti Jepang, Taiwan, Viet Nam, Korea dan beberapa negara di Asia tenggara, di mana kenyataan-kenyataan tersebut dapat dibuktikan sendiri juga oleh siapa saja yang ingin menguji kebenaran yang dipaparkan Weliam Boseke tersebut.
Keinginan yang sangat kuat untuk mencari tahu tentang leluhur Minahasa, yang bagi beliau demi menemukan karakter, identitas, serta jati diri orang Minahasa yang sebenarnya, dan bukan sekadar untuk mencari sensasi, telah mendorong Weliam Boseke mencari fakta-fakta dan bukti nyata seakurat mungkin, dan semuanya telah dipaparkan secara jujur dan logis. Hasil penemuan yang jujur yang ditunjang fakta dan data riil ini telah menghasilkan interpretasi yang sangat layak diterima. Beliau telah bekerja keras dalam waktu yang sangat lama, dan tentu dengan biaya pribadi yang juga tidak kecil, oleh karena harus bolak-balik Minahasa dan Tiongkok (negeri Han Shu) selama bertahun-tahun. Sekali lagi, hal ini dibuat karena semata-mata ingin mendapatkan hasil yang maksimal.
Saya sendiri merasa sangat terhentak dengan penemuan yang menakjubkan ini, sehingga sebagai seorang ilmuan, saya perlu menemukan pembuktian-pembuktian, minimal untuk mengetahui alur logika yang telah dipaparkan Weliam Boseke, serta seberapa kuat beliau dapat mempertanggungjawabkannya. Itulah sebabnya, pada saat pertama saya mendengar berita yang mencengangkan ini, saya langsung berinisyatif. Pikiran saya langsung berjalan dan saya berusaha untuk mempublikasikan serta mengujipublikkan penemuan ini melalui beberapa diskusi dan seminar ilmiah di hadapan para ilmuan, terlebih di hadapan para ahli sejarah, ahli bahasa, dan sejumlah budayawan termasuk etnomusikolog Minahasa. Dan benar! ternyata penemuan ini telah ditanggapi sangat serius dan antusias.
Kali pertama saya mempublikasikan di hadapan para ilmuan dan ahli-ahli bahasa yang ada di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado. Hasil penemuan ini telah disampaikan dalam seminar ilmiah sebanyak dua kali, baik di Aula Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado, yang disuport langsung oleh Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado, Dr. Donald Ratu, M. Hum., dan di Aula Universitas Negeri Manado yang disuport langsung oleh Rektor Universitas Negeri Manado, Prof, Dr. Julieta Runtuwene, DEA. Pemaparan ini kebetulan bertepatan dengan kegiatan dalam rangka Bulan Bahasa tahun 2017. Setelah itu berlanjut lagi, dan mulai keluar kampus yakni, di hadapan publik yang lebih umum, yang terlaksana karena mendapat suport langsung yang sangat luar biasa dari Walikota kota Manado, Dr. Vecky G. B. Lumentut dan dipublikasikan serta diseminarkan di hadapan para ilmuan dan budayawan Sulawesi Utara di Aula kantor Walikota Manado secara umum pada bulan Juli 2017.
Buku PENGUASA DINASTI HAN LELUHUR MINAHASA adalah buku pertama Weliam Boseke, dalam bentuk laporan penelitian, sekaligus dalam rangka untuk mempublikasikan hasil penelitian ini. Akan tetapi, perlulah diketahui, bahwa buku pertama ini BELUM LENGKAP dan BELUM SEMPURNA, karena masih banyak lagi data yang belum dimuat, yang semestinya harus dimuat. Seperti telah dikatakan pada bagian sebelumnya, hal ini terjadi oleh karena desakan para pemerhati yang sudah tidak sabar ingin melihat hasil penelitian ini. Selain itu, perlu waktu yang cukup dalam proses mengedit setiap detail hasil penemuan ini.
Akan tetapi, di luar dari kekurangan tersebut, minimal buku pertama yang belum begitu teratur ini, sudah sedikit mengurangi rasa dahaga sejumlah pemerhati terlebih orang Minahasa sendiri, yang sangat rindu menantikan kehadiran buku ini. Namun, penulis telah berjanji, bahwa data yang belum tertuang di dalam buku pertama ini, yang tentu masih sangat banyak, akan segera dilengkapi pada terbitan atau edisi berikutnya dalam waktu yang tidak terlalu lama, setelah buku pertama ini diterbitkan.
Edisi pertama ini lebih banyak menunjukkan, bahwa ada sejumlah data yang membuktikan, terdapatnya sejumlah fakta, bahwa orang Minahasa memiliki hubungan yang sangat dekat, bahkan lebih berani dapat dikatakan memiliki hubugan darah dengan orang Tiongkok (Dinasti Han), lebih khusus dengan para pejuang yang mempertahankan Dinasti dan Negeri Han Shu dalam perang saudara Tiga Negeri, San Guo (Sam Kok), yang sering dikenal juga sebagai perang konvensional terbesar sepanjang sejarah, yang berlangsung sekitar abad ke-3 Masehi. Bahkan dikatakan, bahwa orang Minahasa bukan hanya memiliki hubungan darah dengan para pejuang tersebut, tetapi lebih dari itu, juga memiliki hubungan darah dengan para turunan kekaisaran Dinasti Han, yang legitimate.
Sekalipun bukan seorang akademisi, tetapi Weliam Boseke telah bekerja dengan teliti layaknya seorang ilmuan. Hal ini tentunya dapat terwujud, karena selain ditunjang dengan waktu dan kesempatan serta biaya pribadi yang tidak sedikit, keberadaan Weliam Boseke juga patut dihargai mengingat selain memiliki dasar logika yang cukup kuat yang didapatkan selama belajar di sekolah calon Pastor Katolik, yakni Seminarium Xaverianum Kakaskasen, Tomohon, Sulawesi Utara, beliau juga ditunjang dengan kemampuan dalam beberapa bahasa terutama Inggris, dan bahasa Tiongkok yang cukup baik serta bahasa Minahasa yang sangat fasih, sebagai bahasa ibunya.
Harus diakui, bahwa banyak data yang ditemukan dalam proses petualangan dan penjelajahan ini sangat ditunjang oleh passion Weliam Boseke, dan pengalaman budaya beliau dalam konteks budaya Minahasa-Tiongkok. Oleh sebab itu, dapat dikatakan penelitian beliau ini lebih menggunakan pendekatan linguistik dan etnolinguistik atau sosiolinguistik. Di samping itu, beliau juga sangat mencintai budaya seni dan lebih khusus budaya musik, di mana melalui pintu masuk ini seperti memahami ritual tradisi yang di dalamnya terdapat Rageshsan, yakni nyanyian yang menyebutkan nama-nama para leluhur, beliau akhirnya menemukan sesuatu yang sebelumnya masih tersebunyi dan kini terbuka.
Beliau juga telah menganalisa karya fenomenal yang sudah terwaris secara oral yakni NYANYIAN KAREMA atau ZAZANIN NI KAREMA atau Kai ren ma de Chang seperti telah dicatat juga oleh budayawan Belanda, van Kol, juga roman fenomenal tentang Perang Tiga Negeri San Guo karya Luo Guan Chong, dan sejumlah doa yang dilakukan secara menyanyi oleh para imam adat Minahasa dalam berbagai ritual tradisi Minahasa. Atas cara terakhir ini, penelitian Weliam Boseke ini dapat juga digolongkan menggunakan pendekatan Etnomusikologi.
...
*Profesor Perry adalah seorang Musikolog-Etnomusikolog, dan sekarang adalah Guru Besar Bidang Analisa Musik pada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado.
Oleh: Prof. Dr. Perry Rumengan, M.Sn.*
Adalah suatu kebahagiaan tersendiri, ketika saya dipercayakan untuk membuat pengantar pada buku PENGUASA DINASTI HAN LELUHUR MINAHASA karya Weliam Boseke, yang cukup menggemparkan ini. Sebagai seorang ilmuan, kebahagiaan ini tentunya sangat beralasan.
Alasannya tidak lain, karena isi buku ini menyajikan sesuatu yang baru sebagai hasil penemuan yang orisinal, sekaligus membuka tabir yang sebelumnya begitu gelap dan kini menjadi terang benderang. Fakta baru ini akan mengubah berbagai hal tentang Minahasa, mulai dari soal asal usul leluhur, juga berbagai hal yang secara langsung atau tidak akan terkait dengan berbagai ilmu, yang karenanya hasil-hasil penemuan sebelumnya akan mengalami perubahan dan perlu dilakukan revisi. Tidak terkecuali, dengan jujur harus saya akui, berdasar penemuan ini sejumlah buku yang telah saya tulis terlebih yang menyangkut bidang saya, yakni etnomusikologi yang berbicara soal musik, dan beberapa hal menyangkut tradisi Minahasa harus direvisi.
Saya mengatakan bahwa buku PENGUASA DINASTI HAN LELUHUR MINAHASA karya Weliam Boseke benar-benar menggemparkan. Mengapa tidak, karena hal yang tertutup dan rahasia selama kurang lebih hampir 2000 tahun, dan sampai saat ini begitu rahasia, begitu gelap, serta yang umumnya selalu masih dikatakan sebagai suatu legenda atau dongeng, bahkan oleh sejumlah kalangan dikatakan sebagai sesuatu yang tahyul, kini mulai terkuak dan menjadi nyata sebagai fakta sejarah.
Beberapa pertanyaan sangat besar yang belum terpecahkan kini mulai terbuka, terlebih khusus hal-hal yang berhubungan dengan antara lain:
1. Siapa leluhur orang Minahasa sebenarnya?
2. Apakah leluhur Minahasa lahir di tanah Minahasa ini atau berasal dari negeri lain?
3. Apabila berasal dari negeri lain, tepatnya dari negeri mana?
4. Apakah kisah Toar dan Lumimuut adalah satu legenda atau dongeng semata, atau kisah yang benar-benar nyata?
5. Benarkah Toar dan Lumimuut adalah leluhur orang Minahasa?
6. Benarkah Toar dan Lumimuut adalah anak dan ibu yang nikah, sehingga orang Minahasa dikatakan sebagai turunan dari perkawinan antara anak dan ibunya?
7. Benarkah bahasa Minahasa memiliki kesamaan dengan bahasa Tiongkok dalam hal ini bahasa Han atau bahasa yang digunakan dalam dinasti Han? atau malahan bahasa Minahasa tersebut adalah bahasa Han itu sendiri, namun telah mengalami perubahan dalam bentuk dan struktur, sekalipun secara fonetik masih memiliki kesamaan?
8. Kalau benar bahasa yanga digunakan orang Minahasa adalah bahasa Han, apakah sebelum menggunakan bahasa Han orang Minahasa sudah memiliki bahasa lain sebagai bahasa milik orang Minahasa sendiri?
9. Mengapa etnik Minahasa tidak memiliki kerajaan dan orang Minahasa tidak mengenal atau tidak memiliki raja?
10. Mengapa di Minahasa terdapat nama-nama atau pun istilah seperti Toar, Lumimuut, Karema, Suminalang, Malesung, Sio Kurur, Waraney, nama-nama tempat, berbagai istilah dalam ritual-ritual tradisi, simbol-simbol tradisi, dan sejumlah kata lain demikian juga di dalam Dinasti Han ditemukan nama-nama atau istilah-istilah yang sama dan melegenda, apakah hal ini kebetulan atau sungguh-sungguh memiliki kaitan yang tidak terpisahkan.
11. Dalam hubungan dengan berbagai karakter orang Minahasa, seperti mengapa orang-orang Tondano sering dikatakan sebagai satu subetnik yang pemberani, bahkan ada yang mengatakan sebagai orang-orang yang suka berperang atau minimal orang-orang yang memiliki nyali perang? Apakah ini, kebetulan atau memang mereka memiliki darah pejuang, pemberani, atau petarung?
12. Mengapa tua-tua Minahasa, yang sebagian dikatakan sebagai ahli budaya dan ahli bahasa Minahasa, namun dalam sejumlah besar naskah dalam bahasa Minahasa terlebih dalam naskah-naskah seni atau pun doa-doa dalam ritual yang sangat sakral, tidak dapat mengerti arti dan tidak dapat mengartikan syair-syair tersebut, bahkan sekalipun sangat sering menggunakannya dengan sangat serius, akan tetapi mereka tidak memahami maksud, isi dan maknanya yang sebenarnya? Setiap kali ditanya artinya, tua-tua tersebut hanya mengatakan, bahwa bahasa tersebut adalah bahasa yang sangat dalam dan sulit untuk dipahami?
13. Apa sebenarnya arti kata atau nama Minahasa? apakah nama Minahasa memang benar dari kata yang memiliki arti “menjadi satu” seperti yang dipahami secara umum saat ini, atau kata Minahasa memiliki arti yang lain? Demikian juga dengan kata Malesung, yang katanya adalah nama daerah ini sebelum Minahasa, apakah benar memiliki arti “lesung” oleh karena bentuk tekstur permukaan tanah wilayah ini berlobang-lobang seperti lesung?
14. Dalam bidang seni tradisi, dalam hal ini Zazanin ni Karema, diakui sebagai nyanyian sakral, yang selalu dinyanyikan dalam ritual tradisi Minahasa, termasuk nyanyian-nyanyian dalam upacara Rumages (Rageshan: pemanggilan nama-nama dan arwah leluhur), nama-nama leluhur Minahasa dari berbagai penjuru mata angin dipanggil. Adapun nama-nama dan kisah yang disebutkan tersebut identik dengan petinggi-petinggi negeri Han Shu dan orang-orang mulia yang berjasa kepada negara Han Shu dari seluruh negeri bagian, termasuk kisah yang memilukan dan tragis yang telah terjadi pada negeri tersebut, (yang terjadi dalam perang Tiga Negara dan proses pengungsian dalam rangka penyelamatan anak-anak para bangsawan), apakah kesamaan ini sifatnya kebetulan, ataukah orang Minahasa justru memanggil arwah-arwah leluhurnya sendiri yang adalah leluhur-leluhur negeri Han Shu?
Buku PENGUASA DINASTI HAN LELUHUR MINAHASA karya Weliam Boseke secara menggemparkan telah menguak semua rahasia tersebut dan dengan saksama telah menunjukkan, bahwa sesungguhnya keberadaan Minahasa dan asal muasal orang Minahasa bukanlah sebagai satu legenda atau dongeng belaka, akan tetapi sebagai satu kisah nyata yang sangat riil dan merupakan fakta sejarah.
Buku PENGUASA DINASTI HAN LELUHUR MINAHASA adalah hasil dari suatu penjelajahan yang begitu lama yang memakan waktu hampir 30 tahun, yang dilakukan oleh senior saya Weliam Boseke. Buku ini telah membuka tabir dan dapat dikatakan mematahkan sejumlah besar pendapat, bahkan teori yang telah dikemukakan oleh berbagai ahli sejarah dan budaya, tokoh dan budayawan Minahasa, dan sejumlah tulisan yang pernah ditulis oleh penulis-penulis asing tentang Minahasa.
Namun sekalipun bangga, di sisi lain secara jujur saya pun perlu bekerja ekstra keras, sebab dalam pembuatan pengantar atas buku ini, saya harus membuka sejumlah literatur untuk menunjang pengantar ini. Hal ini dilakukan, tidak lain agar saya pun tidak gegabah dan terjebak dalam keikutsertaan menciptakan atau menambah jumlah legenda baru tentang leluhur Minahasa, yang nyata dan jelas dapat membingungkan generasi Minahasa di masa depan. Di satu sisi, mengarang legenda, atau cerita yang tidak sesuai dengan fakta akan membuat usaha pelacakkan tentang karakter, jati diri, serta identitas orang Minahasa semakin kabur.
Weliam Boseke bukan akademisi, saya lebih cocok menyebut beliau sebagai seorang pebisnis. Namun, hasil penelitian yang telah dilakukan begitu mencengangkan, oleh karena sekalipun dikatakan metode penelitian yang dilakukannya tidak seperti prosedur baku, yang lasim digunakan dan dilakukan para ilmuan secara umum, namun data yang ditunjukkan sangat jujur dan benar-benar sesuai fakta riil, yang karena hal tersebut maka pemaparannya sangat sulit untuk dibantah. Weliam Boseke telah mengulasnya dengan ulasan yang sangat logis.
Hal ini dapat terjadi, karena beliau benar-benar mengadakan studi lapangan dan melihat dengan sangat teliti segala fenomena dan fakta-fakta yang ada. Fakta-fakta tersebut ditemukannya sendiri, baik yang ada di negeri Tiongkok, lebih khusus di wilayah peninggalan dinasti Han Shu’ dan membandingkannya dengan kenyataan dan fenomena yang benar-benar ada di Minahasa. Bahkan, secara komprehensif Weliam Boseke telah melakukan studi banding dengan fenomena-fenomena yang ada di sejumlah negara yang diperkirakan memiliki hubungan budaya dengan Tiongkok seperti Jepang, Taiwan, Viet Nam, Korea dan beberapa negara di Asia tenggara, di mana kenyataan-kenyataan tersebut dapat dibuktikan sendiri juga oleh siapa saja yang ingin menguji kebenaran yang dipaparkan Weliam Boseke tersebut.
Keinginan yang sangat kuat untuk mencari tahu tentang leluhur Minahasa, yang bagi beliau demi menemukan karakter, identitas, serta jati diri orang Minahasa yang sebenarnya, dan bukan sekadar untuk mencari sensasi, telah mendorong Weliam Boseke mencari fakta-fakta dan bukti nyata seakurat mungkin, dan semuanya telah dipaparkan secara jujur dan logis. Hasil penemuan yang jujur yang ditunjang fakta dan data riil ini telah menghasilkan interpretasi yang sangat layak diterima. Beliau telah bekerja keras dalam waktu yang sangat lama, dan tentu dengan biaya pribadi yang juga tidak kecil, oleh karena harus bolak-balik Minahasa dan Tiongkok (negeri Han Shu) selama bertahun-tahun. Sekali lagi, hal ini dibuat karena semata-mata ingin mendapatkan hasil yang maksimal.
Saya sendiri merasa sangat terhentak dengan penemuan yang menakjubkan ini, sehingga sebagai seorang ilmuan, saya perlu menemukan pembuktian-pembuktian, minimal untuk mengetahui alur logika yang telah dipaparkan Weliam Boseke, serta seberapa kuat beliau dapat mempertanggungjawabkannya. Itulah sebabnya, pada saat pertama saya mendengar berita yang mencengangkan ini, saya langsung berinisyatif. Pikiran saya langsung berjalan dan saya berusaha untuk mempublikasikan serta mengujipublikkan penemuan ini melalui beberapa diskusi dan seminar ilmiah di hadapan para ilmuan, terlebih di hadapan para ahli sejarah, ahli bahasa, dan sejumlah budayawan termasuk etnomusikolog Minahasa. Dan benar! ternyata penemuan ini telah ditanggapi sangat serius dan antusias.
Kali pertama saya mempublikasikan di hadapan para ilmuan dan ahli-ahli bahasa yang ada di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado. Hasil penemuan ini telah disampaikan dalam seminar ilmiah sebanyak dua kali, baik di Aula Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado, yang disuport langsung oleh Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado, Dr. Donald Ratu, M. Hum., dan di Aula Universitas Negeri Manado yang disuport langsung oleh Rektor Universitas Negeri Manado, Prof, Dr. Julieta Runtuwene, DEA. Pemaparan ini kebetulan bertepatan dengan kegiatan dalam rangka Bulan Bahasa tahun 2017. Setelah itu berlanjut lagi, dan mulai keluar kampus yakni, di hadapan publik yang lebih umum, yang terlaksana karena mendapat suport langsung yang sangat luar biasa dari Walikota kota Manado, Dr. Vecky G. B. Lumentut dan dipublikasikan serta diseminarkan di hadapan para ilmuan dan budayawan Sulawesi Utara di Aula kantor Walikota Manado secara umum pada bulan Juli 2017.
Buku PENGUASA DINASTI HAN LELUHUR MINAHASA adalah buku pertama Weliam Boseke, dalam bentuk laporan penelitian, sekaligus dalam rangka untuk mempublikasikan hasil penelitian ini. Akan tetapi, perlulah diketahui, bahwa buku pertama ini BELUM LENGKAP dan BELUM SEMPURNA, karena masih banyak lagi data yang belum dimuat, yang semestinya harus dimuat. Seperti telah dikatakan pada bagian sebelumnya, hal ini terjadi oleh karena desakan para pemerhati yang sudah tidak sabar ingin melihat hasil penelitian ini. Selain itu, perlu waktu yang cukup dalam proses mengedit setiap detail hasil penemuan ini.
Akan tetapi, di luar dari kekurangan tersebut, minimal buku pertama yang belum begitu teratur ini, sudah sedikit mengurangi rasa dahaga sejumlah pemerhati terlebih orang Minahasa sendiri, yang sangat rindu menantikan kehadiran buku ini. Namun, penulis telah berjanji, bahwa data yang belum tertuang di dalam buku pertama ini, yang tentu masih sangat banyak, akan segera dilengkapi pada terbitan atau edisi berikutnya dalam waktu yang tidak terlalu lama, setelah buku pertama ini diterbitkan.
Edisi pertama ini lebih banyak menunjukkan, bahwa ada sejumlah data yang membuktikan, terdapatnya sejumlah fakta, bahwa orang Minahasa memiliki hubungan yang sangat dekat, bahkan lebih berani dapat dikatakan memiliki hubugan darah dengan orang Tiongkok (Dinasti Han), lebih khusus dengan para pejuang yang mempertahankan Dinasti dan Negeri Han Shu dalam perang saudara Tiga Negeri, San Guo (Sam Kok), yang sering dikenal juga sebagai perang konvensional terbesar sepanjang sejarah, yang berlangsung sekitar abad ke-3 Masehi. Bahkan dikatakan, bahwa orang Minahasa bukan hanya memiliki hubungan darah dengan para pejuang tersebut, tetapi lebih dari itu, juga memiliki hubungan darah dengan para turunan kekaisaran Dinasti Han, yang legitimate.
Sekalipun bukan seorang akademisi, tetapi Weliam Boseke telah bekerja dengan teliti layaknya seorang ilmuan. Hal ini tentunya dapat terwujud, karena selain ditunjang dengan waktu dan kesempatan serta biaya pribadi yang tidak sedikit, keberadaan Weliam Boseke juga patut dihargai mengingat selain memiliki dasar logika yang cukup kuat yang didapatkan selama belajar di sekolah calon Pastor Katolik, yakni Seminarium Xaverianum Kakaskasen, Tomohon, Sulawesi Utara, beliau juga ditunjang dengan kemampuan dalam beberapa bahasa terutama Inggris, dan bahasa Tiongkok yang cukup baik serta bahasa Minahasa yang sangat fasih, sebagai bahasa ibunya.
Harus diakui, bahwa banyak data yang ditemukan dalam proses petualangan dan penjelajahan ini sangat ditunjang oleh passion Weliam Boseke, dan pengalaman budaya beliau dalam konteks budaya Minahasa-Tiongkok. Oleh sebab itu, dapat dikatakan penelitian beliau ini lebih menggunakan pendekatan linguistik dan etnolinguistik atau sosiolinguistik. Di samping itu, beliau juga sangat mencintai budaya seni dan lebih khusus budaya musik, di mana melalui pintu masuk ini seperti memahami ritual tradisi yang di dalamnya terdapat Rageshsan, yakni nyanyian yang menyebutkan nama-nama para leluhur, beliau akhirnya menemukan sesuatu yang sebelumnya masih tersebunyi dan kini terbuka.
Beliau juga telah menganalisa karya fenomenal yang sudah terwaris secara oral yakni NYANYIAN KAREMA atau ZAZANIN NI KAREMA atau Kai ren ma de Chang seperti telah dicatat juga oleh budayawan Belanda, van Kol, juga roman fenomenal tentang Perang Tiga Negeri San Guo karya Luo Guan Chong, dan sejumlah doa yang dilakukan secara menyanyi oleh para imam adat Minahasa dalam berbagai ritual tradisi Minahasa. Atas cara terakhir ini, penelitian Weliam Boseke ini dapat juga digolongkan menggunakan pendekatan Etnomusikologi.
...
*Profesor Perry adalah seorang Musikolog-Etnomusikolog, dan sekarang adalah Guru Besar Bidang Analisa Musik pada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado.
Comments
Post a Comment