"Bahasa menunjukkan bangsa"

"Bahasa menunjukkan Bangsa." (?)

Teman saya master di bidang kimia lulusan Taiwan, program doktoralnya dibatalkannya karena tawaran mesti pulang ke Indonesia bekerja sebagai tenaga ahli. Sampai pensiun dia kerja di perusahaan tekstil khusus bagian mekanisasi pewarnaan dengan standar dan prosedur kerja dan teknik yang ketat. Jelang bbrp tahun pensiun, dia sempat mendalami ilmu Akupuntur dan mendapatkan Ijin Praktik melalui UI. Sempat buka praktik hanya untuk kalangan kerabat dan keluarga saja. Saya termasuk yang pernah disembuhkannya setelah dua minggu menjalani perawatan dokter medis RS tidak berhasil.

Sekitar dua minggu yang lalu saya memberikan kepadanya buku Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa karya Weliam H. Boseke, terbitan Pohon Cahaya, Yogyakarta, Januari 2018. Dengan harapan dia membaca dan memberi komentar dari sudut keahliannya. Karena dia juga praktisi bahasa Mandarin bahkan berpraktik sebagai penerjemah tersumpah yang diakui oleh Kedubes Tiongkok dan Kuasa Dagang Taiwan. Dia menjadi penerjemah dokumen legal formal bahasa Mandarin ke Inggris dan sebaliknya, Indonesia ke Mandarin dan sebaliknya.

Saat itu dia hanya mengangguk-angguk saja, tanpa banyak bicara. Ya, memang sifatnya pendiam dan suka berenung bahkan sering saya menemukan dia sedang bermeditasi sambil duduk.

Pernah saya diajak mengikuti acara meditasi dan pengajaran dari seorang Rinpoche, sebutan guru biksu dari Tibet. Teman kita ini menjadi bagian dari penerjemahan pengajaran Rinpoche yang berbahasa Tibet, ke dalam Mandarin, dan terakhir ke Indonesia, selama tiga hari berturut-turut di sebuah tempat ibadah kelompok ini di kawasan Pantai Indah Kapuk.

Seminggu setelah saya berikan buku itu, saya bertemu dia dan menanyakan apakah buku sudah dibaca. Dia hanya tersenyum dan bilang belum sempat.

Hari ini dia datang dan sempat bertemu walau tidak lama karena ada urusan lain menunggu. Dengan semangat dia melaporkan bahwa sudah membacanya dan terkejut dengan buku itu. Dia begitu bersemangat walau tak banyak kata yang dia katakan.

"Saya sudah baca buku itu. Sangat menarik."

"Memangnya orang Manado itu wajahnya mirip orang China ya?"

Tak tahu persislah, jawabku sekenanya saja mungkin 50-60%lah masih kelihatan kemiripan di kulit dan matanya. Siapa yang bisa pastikan?  Yang jelas berbeda dengan suku-suku di Maluku dan Papua, dan lebih dekat dengan suku-suku Melayu.

Saya teringat hampir dua puluh tahun lalu, berdebat dengan petugas imigrasi di Singapura. Dia bilang saya Melayu, saya menolak. Bukan, saya asli Minahasa. Rupanya di Singapura, semua orang Indonesia disebut sebagai orang Melayu. Akhirnya setelah saling paham, maka urusan beres. Ya kebetulan sih saya orang Minahasa yg kulitnya udah coklat hehhe, tapi kalau papa saya putih budo katu. Oh mungkin so taiko mama pe kulit, masih keturunan Jaton stow.

Barangkali lewat test DNA, tapi bagaimana prosedur dan pemilihan sampel orang partisipan test itu di dua tempat? Ada ahlinya ya. Mungkin tak perlu sampai begitu, apalagi sudah hampir 2000 tahun perjalanan kehidupan leluhur di tanah Minahasa, sejak bocah-bocah yang diungsikan karena perang tiga negeri Sam Kok abad ke-3 Masehi, sampai dengan segala pengaruh mobilisasi dan pembauran dari pelbagai suku nusantara dan bangsa di dunia.

Pertanyaan teman tentang kemiripan orang Minahasa dan Tionghoa itu sederhana saja, tapi kesannya memang melompat seolah mau menyimpulkan bahwa Leluhur Minahasa adalah Penguasa Negeri Han. Yang pasti adalah hanya dari perspektif bahasa bahwa kata-kata Mandarin yang dianalisis dan disejajar bandingkan oleh penulis dengan kata-kata bahasa Minahasa sangat terang benderang.

Saya menambahkan, merujuk pernyataan dari teolog dan pemerhati budaya, Max Wilar, "Ya, sampai sekarang juga belum ada penolakan atau yang menyangkal dengan berdasarkan teori dan bukti dari sisi linguistik!" Dan memang penelitian dalam buku ini lebih memakai pendekatan linguistik bandingan dalam sejarah. Bagi mereka yang sudah membaca, ya baca tuntas dan pahami buku ini, akan menemukan bahwa bukti-bukti lain berusaha disebut tapi dengan sangat terbatas, dan tugas para ahli di bidang tersebutlah untuk membuktikannya, verifkasi atau falisifikasi dan apapun metode untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya atas sebuah temuan.

Ada saja keraguan dan bantahan, terbesar dari mereka tang belum membaca buku ini, tapi sebagian karena memang karena ingin tahu lebih banyak, misalnya salah satunya, saya baru dapatkan tambahan jawabannya sore ini. Sebenarnya sudah pernah terungkap jawabannya oleh penulis sendiri dalam salah satu seminar ilmiah publikasi ini di Jakarta. Penulis meneliti bahwa bahasa Minahasa bisa dilacak di Shichuan semasih era dinasti Han Barat. Mengapa bahasa tulisan dan sastra Mandarin yang tinggi itu tidak sampai berkembang di tanah Minahasa?

"Oh, jangan bandingkan bahasa tulisan jaman itu dengan sekarang." Sudah pasti lain perkembangan yang ada di Minahasa dan yang ada di daratan Tiongkok yang luas dengan pusat kerajaan dengan segala aksesnya yang terus berkembang dari dinasti ke dinasti sampai terakhir Revolusi Kebudayaan yang menumbangkan kerajaan terakhir.

"Bahasa tulisan Tiongkok itu dimulai dengan simbol-simbol dengan memakai alat tulis sederhana. Tapi semua simbol itu masih bisa dilacak dan dijelaskan karena bunyinya masih dekat bahkan sama." Kalau di Minahasa, mungkin tidak berkembang lagi bahasa tulisannya, akan tetapi bunyi masih bisa dilacak walau tentu menjadi lebih sulit karena dasar awal pendekatan ideografis atau monosilabel (satu bunyi, satu huruf dan satu arti), lalu pengaruh tulisan dan lisan kemudian lebih memakai pendekatan multisilabel (beberapa huruf membentuk bunyi dan makna).

Memang masih banyak hal yang perlu diteliti dan dijelaskan lagi, namun nampak jelas dari perspektif bahasa dalam sejarah, dia tidak membantah samasekali temuan dalam buku ini, walau diakui ada beberapa kata Mandarin yang menurutnya salah. "Tapi masih bisa dimaklumi karena perjalanan bahasa ini sudah ribuan tahun ya," tegas teman kita ini, yang sejak 2 tahun lalu ditahbiskan menjadi Bhiksu di Buthan dekat Tibet, negeri kayangan di pegunungan Himalaya.

Jadi, seberapa kandungan kebenaran pepatah kuno di atas: Bahasa menunjukkan bangsa. Apakah bisa dipakai untuk menjelaskan judul buku Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa. Sebuah pertanyaan atau pernyataan bahkan penegasan? Tolle et lege, take and read, ambil dan bacalah... buku tersebut bila anda penasaran dan ingin tahu lebih dan bisa memberikan jawaban penilaian sendiri. #stefir

Comments

  1. Orang Tionghoa Medan yang berbahasa lokal suku hokkian kalo bicara juga akhirannya sering ada kata ' lei,sama dengan orang Kawanua,banyak lagi yg mirip2 juga

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Arti dan Sejarah Fam Minahasa: WAYONG

Burung Manguni dan Local Wisdom Leluhur Minahasa