Max Wilar: Waruga dihancurkan secara "biadab"

REFLEKSI. Suatu waktu di masa lalu Gubernur Sulawesi Utara Mayjen (pur) HV Worang memindahkan sebuah Waruga di perhumaan Nawanua yang masuk wilayah kepolisian Kakaskasen di Tomohon. Waruga tersebut  diklaim sebagai rumah jiwa leluhur (Opo) Worang.

Waruga dipindahkan dengan adat dan adab yang patut hingga kini berada di tepi jalan dekat Biara Karmel Kakaskasen Tiga, Kec. Tomohon Utara. Jalan yang tak bernama pun diberi nama Jalan Opo Worang hingga kini. Pemindahan Waruga oleh Gubernur Worang waktu itu sebagai jawab budaya terhadap panggilan keluhuran. Gubernur Worang sudah berpulang. Waruga Opo Worang hingga kini jadi kenangan dan obyek wisata.

Waruga Kina'angkoan dan Waruga Pinandean di desa Kawangkoan dan Kuwil, Kecamatan Kalawat, Minahasa Utara adalah kisah tragis. Dirusak dan dihancurkan secara "biadab" menurut literasi August Parengkuan wartawan senior Kompas dan mantan Duta Besar RI di Italia.

Waruga bukan sistim kepercayaan tapi sejarah adab dan peradaban tou Minahasa. Kita selalu bangga bila berpose di Piramid Mesir yang adalah rumah jiwa leluhur Mesir di masa lalu tetapi Waruga yang merupakan rumah jiwa leluhur tou Minahasa kita biarkan dihancurkan secara biadab.

Waruga Kina'angkoan dan Waruga Pinandean sudah tercerai berai oleh keganasan mesin pembangunan yang dikendalikan manusia.

Siapa yang harus bertanggung  jawab terhadap kehancuran simbol adab dan peradaban tersebut?

Negara kita adalah negara yang berdasarkan hukum (rechtsstaat). Kita serahkan saja kepada proses hukum.

Secara kultural air mata tou Minahasa sudah jatuh ke bumi. Sang maha adab akan buat perhitungan pada waktunya. (MW)

Comments

Popular posts from this blog

Arti dan Sejarah Fam Minahasa: WAYONG

"Bahasa menunjukkan bangsa"

Burung Manguni dan Local Wisdom Leluhur Minahasa