Filologi: Bahasa Minahasa Bernilai Tinggi, Mengapa Ditinggalkan?
Makin ditelusuri dalam pelbagai referensi lama, tesis Boseke terkait leluhur Minahasa makin terverifikasi! Beberapa ahli dulu ternyata telah memuat pelbagai dokumentasi baik catatan etnografis maupun berdasarkan penelitian, yang mendukung tesis dengan bukti temuan yg sangat sulit dibantah.
Secara khusus temuan bahasa Minahasa sebagai bahasa dengan nilai susastra tinggi itu makin tersingkap. Secara filologi atau ilmu tentang bahasa kuno, bahasa Minahasa adalah bahasa sastra klasik dari budaya agung Han (Weliam H. Boseke), yang diusulkan Dr. Benni E. Matindas disebut bahasa etik!
Peneliti bahasa Minahasa asal Eropa, Dr. Adriani, pernah menyesalkan bahwa orang Minahasa meninggalkan bahasa leluhur yg mempunyai filologi yang tinggi. Orang Minahasa pernah melihat bahasa Melayu sebagai jalan menuju kemajuan dalam pergaulan di Nusantara, lalu kembali ke bahasa Belanda untuk maju dalam ilmu pengetahuan, tapi sebenarnya mereka sudah punya bahasa leluhur sendiri yang sedemikian tingginya. (vide Prof. GMA Inkiriwang dalam L. Adam, _Adat Istiadat Suku Bangsa Minahasa_, 1976).
Bdk. Bahasa Melayu yg menjadi awal bahasa Indonesia, katakan lah sejak 1928 Sumpah Pemuda itu. Bahasa Melayu masih terpelihara di wilayah Riau dan terutama di Malaysia, tapi sekarang yg sudah jauh tertinggal di belakang dari bahasa Indonesia modern. Dan bahasa Belanda tetap menjadi bahasa dunia tapi pemakainya tidak lebih banyak dari bahasa Indonesia modern sekarang.
Ironis, zaman sudah berubah, tapi masih banyak orangtua Minahasa bangga anak-anaknya belajar dengan bahasa Melayu, bahkan melayu pasar bukan melayu tinggi (pendidikan). Padahal sudah ada bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa pergaulan di Indonesia!
Apakah orang Minahasa sudah latah dan tak tahu lagi mengapa bahasa asing itu digandrungi orangtua doeloe?, dan sekarang sudah tak bisa membedakan lagi mana bahasa yg bisa membawa pada kemajuan pergaulan nasional bahkan internasional?
Bandingkan orang Minahasa dengan bahasa melayu Manado datang ke Jakarta, dia akan kecele sendiri dan kaget krn akan dianggap aneh dan norak oleh orang yg berdialek Jakarta! Apalagi oleh orang Jawa dan Sunda yg bangga dengan bahasa daerahnya!
Lebih baik kembali berbahasa Minahasa dalam pelbagai tuturnya yg masih ada...karena bahasa Melayu tak bisa cukup dipakai dalam pergaulan nasional!!
Belajarlah bahasa leluhur Minahasa itu, mumpung ada kesempatan. Sa rei tekan, kawisa? Sa rei Nikita, seipe?
Lupakan bahasa melayu pasar itu, atau cukup jadi bahasa yang kesekian, lebih baik belajarlah bahasa Indonesia itu sendiri sebagai bahasa pergaulan bahkan ilmu pengetahuan.
Gantilah bahasa pergaulan dengan bahasa Minahasa saja, kecuali untuk keperluan di pasar masih bolehlah pakai bahasa melayu Manado, atau ya nda apa gunakan bahasa melayu tapi sadari bahasa Minahsa itu jauh lebih tinggi nilainya, secara kultural maupun historis dan etis.
Untuk bahasa pergaulan internasional dan akses ke ilmu pengetahuan lebih luas, belajarlah bahasa merujuk pd bahasa2 yg dipakai resmi di PBB: China, Spanyol, Inggris, Rusia, Perancis, dan Arab!
Temuan Boseke lebih menegaskan betapa pentingnya pelajari bahasa Minahasa sekarang, yang jauh lebih tinggi nilainya daripada bahasa Melayu tempo doeloe atau bahasa zaman kolonial yang tidak mencukupi lagi!! Udah jadul dan malah menjauhkan generasi muda dari kesempatan mengenali dan mencintai bahasa para leluhur sendiri.
Ada banyak yg sudah berubah, tapi masih bisa dilacak keasliannya. Kita tak perlu kembali ke bahasa paling awal, karena muskil, cukuplah lestari kan apa yg masih ada dan terwariskan dalam pelbagai tutur lisan dan tulisan.
Yang pasti adalah bahwa bahasa itu hidup dan berkembang sehat, dan akan lebih kuat fondasinya bila kita sadari dan temukan aslinya! Maka penting sekali terus mendalami bahasa leluhur itu, dengan mulai menggunakannya dalam segala kesempatan di mana saja memungkinkan!
Kerancuan berbahasa bila dibiarkan terlalu lama akan mempengaruhi budaya masyarakatnya sendiri, krn kehilangan akar dan identitas asaliya! Sejarah menunjukkan kekacauan bahasa telah menimbulkan stigma dan prasangka yang berujung pada kekacauan kehidupan manusia, maka membenahi kekacauan bahasa akan mengurangi kekacauan sosial politik di masa depan. (Rahmat Petuguran, Mengobati "Endemi" Kekekacauan Bahasa, 2018)
Belajar bahasa Minahasa akan menguatkan identitas budaya dan sejarah leluhur Minahasa! Dan membuat anak muda lebih bangga dan berkarakter dengan bahasa etis sehingga siap menghadapi pengaruh luar, termasuk lewat bahasa asing.
Anak2 muda mestinya bisa belajar bahasa leluhur, minimal memahami perubahannya dalam sejarah yg panjang, supaya bisa menemukan dasar yg kokoh dari jalan dan kehidupan ke depan lebih benar, baik, berguna!#stefirengkuan
NB:
Terimakasih kepada Dr. Tonny Parengkuan (Surabaya) atas info buku dan analisanya.
Comments
Post a Comment