Waruga, Warisan Budaya Benda
Dalam buku ‘Penguasa Dinasti Han, Leluhur Minahasa, Weliam H. Boseke memberikan data tambahan selain analisis bahasa dengan metode ‘Linguistik Komparatif’.
Data yang dimaksud adalah ‘Waruga’ yang kini disebut kuburan kuno. Keberadaan Waruga masih terlihat hingga kini di beberapa tempat di Minahasa. Weliam H. Boseke menjelaskan sedikit tentang waruga sebagai data untuk memperkuat temuannya bahwa leluhur Minahasa berasal dari Dinasti Han.
Disebutkan bahwa kata Waruga dalam bahasa Minahasa memiliki kesamaan dengan kata yang ada di Tiongkok, yakni “Waruge’. Selain itu ciri-ciri fisik juga memiliki kesamaan.
Akan tetapi dalam sebuah diskusi informal, ada seseorang menyangga argumen dari Weliam H. Boseke tersebut dengan menyatakan bahwa Waruga itu berada di masa era sejarah 1000 SM, sedangkan dinasti Han berada di era sejarah 202 SM. Dengan demikian Minahasa sudah jauh lebih tua dari Dinasti Han. Jadi sangat tidak mendukung kesimpulan temuan itu.
Argumen itu didasarkan pada pengujian karbon dari Waruga itu sendiri. Ditemukanlah angka dari umur itu.
Jadi bila mengacu ke argemen penyangga itu, maka Waruga sudah ada di tanah sekarang yang menurutnya disebut Minahasa jauh sebelum Dinasti Han tiba yaitu 263 M (sesuai teori Weliam H. Boseke). Dengan demikian teori Weliam H. Boseke dapat digugurkan.
Benarkah data yang diberikan penyangga itu?
Mari kita lihat dalam buku ‘Minahasa Masa Lalu dan Masa Depan’ tulisan N. Graafland! Buku ini diterjemahkan oleh Yoost Kullit dari judul asli De Minahassa: haar verleden en haar tegenworodige toestand yang diterbitkan di Rotterdam oleh penerbit M Wyt 7 Zonen 1869. Ini tahun penerbit.
Jadi, Graafland telah berada dan berkeliling Minahasa di tahun-tahun sebelum tahun terbitan itu. Sesuai catatan ia melihat keadaan minahasa awal tahun 1860. Buku ini merupakan kisah perjalananan. Ia mencatat apa yang dilihat baik tanaman, binatang maupun kejadian-kejadian kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat Minahasa pada waktu itu.
Pengertian Minahasa masa kini di judul buku itu tentu mengacu pada tahun sekitar 1860 itu. Dengan demikian logika kita bahwa catatan-catatan yang dibukukan itu sekitar tahun 1860-an.
Saya mengutip catatan kisah perjalanan yang dibukukan ini. "Suatu perasaan resah dan prihatin menyebar di kinilow. Ada penyakit dan kematian. Di sana kita melihat orang sakit dipindahkan dari rumah satu ke rumah yang lain. Orang ingin melarikan diri dari jin penyakit yang marah. Di tempat sana terlihat sekumpulan orang sedih. Seorang berusia lanjut menunjuk pada sebuah waruga, dan beberapa orang mengangkat penutup daripada tembikar batu, yang merupakan tempat penguburan mayat manusia, yang terletak setengah tergali di tanah belakang rumah…."
Catatan ini adalah pengalaman nyata di desa Kinilow. Untuk lebih lengkap lagi saya tambahkan suatu bukti lain dari buku Graafland ini. ini lebih jelas bagaimana waruga itu dibuat dan terbuat dari bahan apa.
"Kuburan itu merupakan sebuah sarkofak, seperti yang pernah saya uraikan. Sekarang mengenai bentuk serta besarnya sarkofak itu. Waruga atau timbukar itu dipotong dari sejenis batu lembut, yang kebanyakan di dapat orang di hutan di dalam tanah – batu trakhit yang lapuk – dan yang jika ditempatkan di udara bebas akan menjadi keras Waruga itu terdiri dari dua potong: sebuah pot berbentuk empat segi serta sebuah penutup. Yang pertama itu biasanya mempunyai suatu ketinggian – atau lebih baik lagi suatu kedalaman, sebab mereka menempatkannya di dalam tanah, - yang ukurannya dua hingga tiga kaki; ada yang kecil, ada yang besar, danmempunyai ukuran lebar dan panjang kira-kira dua kaki. Penutup itu berbentuk seperti atap orang alifuru, dan yang tingginya satu atau dua kaki. Duluwaruga itu di tempatkan di belakang atau di seputar rumah. Peraturan belakang menetapkan tempat penguburan tertentu yang terletak di luar perkampungan."
Kutipan dari buku Graafland ini jelas sudah merupakan bukti nyata bahwa waruga itu tidak berusia ribuan tahun sebelum masehi. Ini merupakan suatu faktum dan bukti otentik karena Graafland mencatat sebagaimana yang ia lihat sendiri, bukan merupakan suatu asumsi atau interpretasi.#
By: John Puah
Comments
Post a Comment