MENYINGKAP RAHASIA KEUNGGULAN ORANG MINAHASA DOELOE

Orang Minahasa sudah lama diakui fenomenal positif oleh kalangan di luar mereka. Terutama pada era akhir abad XIX sampai lima dekade awal abad XX [meski itupun sebetulnya hanya tinggal sisa-sisa peradaban dari sistem budayanya]. Mereka leading dalam hampir semua bidang dan sektor kehidupan masyarakat. Menjuarai hampir semua cabang olahraga, merajai hampir semua cabang produksi dunia industri modern, mengajar Bahasa Melayu di daerah-daerah yang justru merupakan asal bahasa tersebut (Riau, Sumatera Selatan, dan lain-lain), menjadi pemimpin pasukan yang diandalkan di setiap front pertempuran. Pada 1920-1930an ada sampai puluhan penyair di Minahasa yang sudah menulis dengan gaya yang nanti tahun 1940an terkenal sebagai aliran Nieuw-Zakelijkheid (Kelugasan Baru) oleh Chairil Anwar cs. Nona Kandou dalam usia belasan sudah menjadi wakil Hindia-Belanda, bersama Ki Hajar Dewantoro, sebagai pemakalah dalam Kongres Pendidikan seluruh negara-negara persemakmuran Kerajaan Nederland; Andi Mamesah adalah orang non-Barat pertama yang memimpin pekerjaan teknis inti pertambangan minyak; Marie Thomas-Doodoh adalah wanita pertama di Indonesia yang meraih ijazah dokter dan kemudian menyandang sekaligus 6 spesialis; Andri Andu adalah mahasiswa kedokteran yang tampil membasmi penyakit menular yang sedang mewabah di kota Batavia, berkat jasanya yang sedemikian fenomenal ia bukan saja langsung diberi ijazah dokter tanpa harus mengikuti ujian tapi ia bahkan diundang ke Leiden dan dipromosi meraih gelar doktor [pada 1930-an Dr. Andu dipercayakan memimpin Dewan Kota di Manado]. Kisah-kisah prestasi fenomenal tou Minahasa amat panjang daftarnya, dan sisa-sisanya masih terus memanjang sampai jauh di kemudian hari [a.l. mereka yang merajai gelanggang olahraga-otak Bridge sampai di arena internasional dan untuk waktu yang terbilang lama]. 

Tak heran ketika lebih seabad lalu Sam Ratulangi mengkonstatasi bahwa Minahasalah yang paling laik sebagai lokomotif peradaban bila kelak di kepulauan Nusantara ini akan didirikan negara bangsa [- di luar soal kenyataan sejarah harus lain].

FENOMENA KEUNGGULAN individu tou Minahasa itu berjalin-berkelindan secara utuh dengan kecenderungan eksistensial mereka untuk menyatu dalam perkaumannya. Ini jelas paradox. Tapi pada diri tou Minahasa ini alamiah. Maka jangan heran jika di antara sesama tou Minahasa sendiri berlangsung secara fenomenal pula persaingan yang sering sangat mengerikan dan pasti merugikan. Evert Langkai, panglima pertama Laskar KRIS, dengan kepemimpinan yang luarbiasa; dialah yang membawa Bung Tomo dan Kahar Mudzakar ke Markas Besar TNI sehingga kedua orang muda tersebut langsung berkibar di jajaran pimpinan Angkatan Perang; peneliti sejarah militer Indonesia bahkan menemukan data betapa Evert Langkai pernah membawahi Jenderal Sudirman yang Panglima Besar itu. Pendek kata Langkai begitu besar di lingkungan nasional, tetapi sebegitu besar kehendak untuk mengecilkannya dan terus-menerus ditantang dalam lingkungan orang-orang Minahasa sendiri, terutama oleh sahabat terdekatnya sendiri, Jan Rapar, sampai Evert Langkai mengundurkan diri sebelum rencana pengangkatannya sebagai Panglima Divisi 17 Agustus. Lex Kawilarang, sang spesialis panglima (Panglima pertama untuk Indonesia paling barat yang meliputi SumUt, Aceh dan Sumatera Tengah, kemudian Panglima pertama untuk Indonesia Timur, kemudian Panglima Jawa Barat yang meliputi Ibukota Jakarta); KSAP Letjen TB Simatupang maupun KSAD Mayjen AH Nasution sangat menyegani Lex yang teman sekelas mereka di Koninklijke Militaire Academie karena ketika mereka ditawan Jepang, Simatupang dan Nasution hanya pasrah menunggu eksekusi sedangkan Lex berani meloloskan diri. Kawilarang terkenal sangat tegas, bahkan cenderung ditakuti. Sampai ada cerita betapa ia pernah menggampar Komandan Brigade Garuda Mataram Letkol Soeharto (Presiden RI selama 30 thn). Pendek kata Lex Kawilarang begitu besar di lingkungan nasional, tetapi sebegitu besar pula ia terus-menerus hendak dikecilkan dan ditantang dalam lingkungan orang-orang Minahasa sendiri, Joop Warouw sampai pernah menantangnya duel. Hal yang sama dialami oleh para pemimpin militer yang kendati di lingkungan nasional selalu lebih daripada disegani, seperti Ventje Sumual, Welly Lasut, GH Mantik dll. 

FENOMENA LUARBIASA inilah yang disingkap rahasianya oleh Dr. Paul Richard Renwarin melalui bukunya “Matuari wo Tona’as Minaesa” (xii+353 hlm). Ia pun menjelaskan apa penyebab orang Minahasa amat gandrung persatuan (maesaan) tapi sekaligus gemar baku cungkel di antara mereka sendiri. 

Fenomena khas tou Minahasa ini sudah menarik perhatian banyak kalangan sejak lama. Renwarin sendiri mengaku, ia pertama kali tartarik untuk meneliti setelah membaca analisis David Henley dan Mieke Schouten ihwal fenomena ini.

Tapi lebih daripada Henly, Schouten maupun peneliti lainnya tentang orang Minahasa, Renwarin dalam bukunya ini menggarap secara sangat detail, tuntas, dan terutama saya nilai: benar. 

Renwarin langsung mengidentifikasi sisi sosialitas atau kolektivitas dengan nilai dasar positifnya yakni “matuari”. Sedang sisi individualitas langsung diidentifikasi pada nilai dasar positif “tona’as”. Dan ini tidak sekadar upaya cerdiknya untuk segera membebaskan diri dari dikotomi yang oleh Lysen sudah dibakukan sebagai “dilemma kekal”, untuk bisa masuk ke paradigma penyelesaian yang lebih mungkin, tapi memang yang Renwarin identifisir itu, “matuari” dan “tona’as”, adalah sejatinya basis nilai dari sosialitas dan individualitas khas Minahasa. Renwarin menyebutnya dua “prinsip budaya”.

Dan lebih dari itu, bukan kebetulan, sebagaimana diungkap oleh Renwarin, “matuari” itu sendiri berakar dari kata “ari’i”, yaitu tiang-tiang penopang utama dan sokoguru rumah sematuari itu, yang dulu biasanya menggunakan kayu “ta’as” yang merupakan akar kata “tona’as” itu sendiri. 

PERBENTURAN ABADI antara kutub nilai Matuari dan kutub nilai Tona’as itu, menurut Renwarin, adalah mekanisme peningkatan. Proses-proses mekanistis yang berlangsung di dalam ke-matuari-an itu sendiri — termasuk melalui dorongan dari upacara-upacara dan pelbagai ekspresi seni dan budaya tradisional — yang membuahkan penonjolan nilai ke-tona’as-an yang berarti penentangan terhadap posisi status quo kematuarian itu sendiri.  Jadi, matuari itu sendiri yang berproses melahirkan penonjolan tona’as yang tak lain adalah pukulan terhadap matuari itu sendiri, namun dengan hasil akhir berupa peningkatan (increasing) matuari itu juga dan dengan demikian peningkatan individu-individu yang ada di dalamnya untuk mencapai kondisi “tona’as”. Pencapaian prestasi setingginya dalam bidang jasmani maupun rohani, ekonomi maupun politik dan budaya. Persis sebagaimana yang sering diungkapkan Tona’as Wangko Ventje Sumual, menjadi kaya-paripurna: kaya material, kaya intelektual dan kaya spiritual.   

Itulah rahasia keunggulan fenomenal tou Minahasa! Dan sekaligus itulah pula jalan satu-satunya bagi orang Minahasa untuk bisa, dan harus, mengintrospeksi diri bila mendapati kenyataan mereka kini sudah amat merosot, terpuruk, dan lebih sering dikalahkan atau cuma dijadikan alat oleh pihak-pihak lain…!

Istilah “mekanisme-mekanisme peningkatan” sebelumnya digunakan oleh Serena Nanda (awal 1990an), kemudian oleh David Henley (thn 2002). Akan tetapi Renwarin memasukkan deskripsi rinci dari proses material dalam mekanisme-mekanisme tersebut, dan tepat! 

Juga, walau di awal Renwarin menggunakan pendekatan mazhab Leiden dengan merujuk pada Schefold, Nordholt dan sebagainya, tetapi Renwarin melampaui mereka. Mereka, menurut saya, terperangkap pada dialectics-materialism khas ilmuwan Marxian. Saya bisa pastikan, Renwarin bisa melampaui perangkap tersebut karena ‘mind set’-nya berisi kerangka etika Thomisme: manusia memiliki sistem kesadaran yang memampukannya melampaui keterikatan pada keterbatasan determinisme alamiah. Dan di dalam budaya Minahasa asli, sistem etika yang benar tersebut built-in adanya.

Pendekatan BUDAYA ETIKAL (Weberian: etos), dengan sistem etika yang benar, inilah yang, dalam praktiknya, membuat tou Minahasa (pernah) bisa secara relatif mencapai keunggulan-keunggulan fenomenalnya dalam sejarah yang tak terbantahkan itu. Dengan kebudayaan saja, atau dengan etika pun tapi kalau konsepnya tak tepat, kita tahu itu sangat-sangat sukar. Freud sudah lama menjelaskan kesukaran yang nyaris kemusykilan itu, dan kemudian Lacan ‘menambah’ kesukaran itu. Para founding-fathers Indonesia pun saat merumuskan konsep-konsep dasar negara yang akan didirikan 1945 sempat mengedepankan perhadapan dua kutub filosofis ini, Prof. Mr. Supomo pada kutub Sosialitas sedang Bung Hatta pada kutub Individualitas. Dan buntu!    

Buku “MATUARI WO TONA’AS MINAESA. Jilid II MAHKARIA. DINAMIKA PERSAUDARAAN KOMUNAL DAN KEUNGGULAN INDIVIDUAL TOU MINAHASA” karya Paul Richard “Cardo” Renwarin ini adalah disertasi doktornya di Universitas Leiden, Belanda. Tetapi penyajiannya berupa buku ini sudah diedit sedemikian rupa menjadi bacaan pop yang enak dan dengan bahasa yang mengalir. Walaupun Buku ini terdiri dari 2 jilid, tapi bagi Pembaca yang cukup mau mengetahui rahasia keunggulan tou Minahasa itu cukuplah membaca Jilid II saja. Kecuali yang ingin melengkapi dengan data rinci, atau mengoleksi buku penting dan original ini buat anak-cucunya. 

Walaupun penelitian Renwarin ini menggunakan puak Tombulu, tetapi penjelasannya di dalam buku ini senantiasa berusaha disejajarkan dengan istilah-istilah untuk maksud yang sama dari puak-puak Minahasa lainnya, bahkan dengan istilah dan ungkapan Melayu Manado.

Taintu. [Benni E.Matindas]


Comments

Popular posts from this blog

Arti dan Sejarah Fam Minahasa: WAYONG

"Bahasa menunjukkan bangsa"

Burung Manguni dan Local Wisdom Leluhur Minahasa