Leluhur Minahasa: Keyakinan Mitologi, Teori, dan Pembuktiannya
*Leluhur Minahasa: Keyakinan Mitologi, Teori, dan Pembuktiannya*
-------------------------
Sembilan (9) tawaran pokok pikiran dan refleksi bagi tou Minahasa tentang Sejarah dan Budaya Minahasa "un tantu rimbengbeng", sungguh diselumuti kegelapan (JGF Riedel), khusus temuan baru yang memberi secercah cahaya terkait dengan buku _Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa_ karya *Weliam H. Boseke*.
1. Sumber info pengetahuan leluhur Minahasa yang dipegang dan sudah merasuk dalam diri individu dan masyarakat Minahasa adalah kisah Lumimuut-Toar. Kisah ini telah menjadi sebuah keyakinan akan benarnya asal usul leluhur, sedemikian rupa sikap tersebut memengaruhi hidup dan paradigma berpikir terkait keyakinan tersebut. (Bdk. Bert Supit, 1986)
2. Namun demikian, dokumentasi kisah ini paling awal saja mencapai 92 versi, dan pada tahun 1970-an menjadi lebih dari 100 versi karena kemungkinan karena pengaruh teori2 migrasi yang bermunculan pada masa itu. (Denni Pinontoan dan Bode Talumewo dlm webinar zoom Tou Minahasa Melbourne). Padahal versi yang kiranya paling awal menurut catatan JAT Schwarz dalam bukunya terbit 1907, baru menyebut 11 versi.
3. Kisah Toar-Lumimuut ini sebagai leluhur pertama Minahasa dibawakan oleh tonaas Walian pada saat upacara kematian khususnya untuk merunut asal usul si yang meninggal. Dari sekian versi penuturan kisah tersebut, Syair Zazanian Ni Karema dianggap yg lebih lengkap yang mengungkapkan asal usul leluhur Minahasa. Dokumentasi tertua, sejauh bisa diperoleh data secara tertulis, dibuat oleh H. Van Kohl dalam buku bertahun 1903.
4. Ilmu Sejarah mengajarkan bahwa mitologi bukan sejarah tapi bisa dipakai karena mengandung kebenaran tertentu, selama tidak ada fakta pegangan lain yang memadai. Apalagi teori-teori migrasi penduduk selama ini berbeda-beda. Mana yang diikuti untuk Indonesia, dan khususnya Minahasa?
*Teori Yunan (Tiongkok Selatan
* Teori Nusantara
* Teori Out of Taiwan
* Teori out of Africa
Ada juga Teori Austronesia sampai Mongol dan Israel?
Darimana pun asal secara general, faktanya ada ratusan suku dan ras di Indonesia. Sehingga menjadi alasan dasar kita disebut dan dibingkai indah dalam negara tercinta: Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu. Kita bersatu karena berasal dari pelbagai perbedaan termasuk berbeda suku dan ras! Dengan demikian kekhasan identitas dan sejarah masing2 adalah sebuah kekayaan yang membuat mozaik NKRI itu menjadi indah.
5. Merefleksikan fakta keragaman yang bahkan bisa saling menihilkan di atas, bisa dikatakan Kisah Lumimuut-Toar ini yang sudah menjadi sebuah keyakinan tentu bersifat pra-teoritis. Dan teori-teori migrasi di atas sesungguhnya bersifat pra-empiris karena fakta yg dipakai sudah ditafsirkan menurut teori yg dipakai. Maka lebih cocok teori-teori tersebut tentang leluhur Minahasa khususnya disebut hiptotesis yang mesti terus melewati suatu upaya pembuktian. (Bdk. John Verhaar, 1992)
6. Lebih lanjut, para ahli dan sejarawan yang hanya melihat peristiwa sebagai sebuah kontinuum linear akan menghadapi pertanyaan dari filsuf sejarah Michel Foucault (Arkeologi Pengetahuan) yang menegaskan bahwa ada keterpatahan sejarah, apalagi terkait linguistik itu sendiri. Fakta ada banyak versi tulisan sejarah yg diklaim sendiri sebagai sebuah kebenaran menunjukkan sesungguhnya sejarah itu memang ditulis oleh penguasa (yg mampu dan berkuasa menetapkan sebuah sejarah didokumentasikan atau tidak). Sejarah bukan ditulis langsung pada saat itu sedang berlangsung, tapi saat ditulis sudah dengan interpretasi dari si penulis atau penguasa yg memerintahkannya dengan maksud tertentu. Karena itu filsuf Perancis tersebut memandang remeh sejarah dan mengusulkan fakta sejarah harus selalu dibaca ulang dan didekonstruksi ala posmo.
7. Boseke datang dengan temuan, bahkan bukan dengan klaim teori belaka. "Satu temuan membantah 1000 teori" (Benni Matindas menegaskan kembali apa yg dinyatakan ekonom pemenang Nobel asal Swedia, Gunnar Myrdal). Boseke memang telah melahirkan satu teori hipotesis tersendiri yg didukung oleh bukti-bukti sangat kuat secara faktual empiris dan fenomenologis. Ada "pengulangan berpola" yang sudah terjadi banyak kali, dan itu sudah mesti diterima para ilmuwan yang mengerti apa artinya sebuah penelitian sosial. Hipotesis sudah terbukti, apalagi yang mesti dibantah selain terus mendalami kebenaran itu sendiri, yang tentu saja tetap terbuka pada temuan-temuan lain.
Sudah tentu dipicu oleh keingintahuan dalam pengalaman pribadinya dan sampai pada asumsi bahkan hipotesis tertentu maka Boseke mencari dan menemukan apa yang ada di Minahasa dan di negeri Han sana ternyata begitu "menggemparkan", memakai istilah yang dipakai ahli etnomusikologi Prof. Perry Rumengan yang memberi pengantar panjang buku pertama Boseke itu. Dibandingkan sejumlah pernyataan hipotesis dengan segala rujukan teori bahkan keyakinan yang sudah pernah ada sebelumnya, temuan Boseke jelas lebih bisa dipertanggungjawabkan secara empiris obyektif.
"Teori Boseke" menegaskan bahwa bahasa Minahasa itu cuma satu, bersifat etik yang berformat monosilabic sejak awal krn berasal dari Han abad ke-3 Masehi, dan dari situ lahir teori asal usul manusia Minahasa berasal dari suatu wilayah negeri daratan Tiongkok itu sendiri, yakni istana Dinasti Han khususnya dipicu oleh perang tiga negara, populer dengan nama Sam Kok, yang mengakibatkan penyingkiran atau pengungsian sekelompok anak bersama para pendamping mereka yang kemudian tiba di "tuur in tana" (Han: tu uxin dao na, tanah tiba dengan tak sengaja).
Adagium kuno: "Bahasa menunjukkan bangsa." Bahasa Minahasa masih mewarisi bahasa Han yg punya sastra tinggi yg bersifat etik dibandingkan bahasa Mandarin modern yg sdh sangat praktis, karena perubahan penguasa dari generasi ke generasi termasuk dari penguasa dari suku lebih kecil dari luar seperti Mongol dan Manchuria, dan terakhir dalam Revolusi Kebudayaan (1966 - 1976) membabat habis semua istilah yg bernuansa keagamaan yg melekat erat dengan tradisi dan nilai-nilai etik dan agama.
8. Bagaimana dengan bahasa Minahasa sendiri dan profil jatiditi keMinahasaan sekarang dan akan datang, akan ditentukan oleh keyakinan dan teori yang lebih masuk akal dan didukung bukti yang tak terbantahkan. Bukan sekedar tergantung pada "keyakinan" lama, bahkan yang berdasarkan "teori" yang diklaim sepihak berdasarkan bukti empiris yang tidak memadai.
9. Secara teoretis adalah mungkin saja untuk mengenang dan mencari tahu masa lalu yang sesungguhnya terkait bahasa bahkan siapa leluhur Minahasa. Tetapi muskil untuk kembali ke masa lalu itu seperti dalam mesin waktu. Yang paling riil adalah memahami masa lalu dengan segala kisah perjalanannya untuk menatap masa depan dengan berpijak pada apa yang sudah ada sekarang ini.
Perubahan sudah dan masih akan terus terjadi, semoga jati diri Minahasa dengan nilai dan keyakinan, pengetahuan dan keterampilan, kebiasaan dan lingkungan yang terberi untuk digumuli dari generasi ke generasi. Keunggulan individual dan Persaudaraan komunal orang Minahasa memang telah menjadi helix ganda dari DNA manusia Minahasa bahkan sampai masa modern ini, yang memang tak lepas dari sejumlah penyimpangan yang mesti dihindari (Lih. PR Renwarin dalam disertasi di Leiden: Matuari and Tona'as). Historia vitae magistra est, sejarah adalah guru kehidupan, atau memandang masa lalu yang selalu aktual demi sebuah strategi perubahan menuju kehidupan yang final dan ultim.
I Yayat U Leos
Stefi Rengkuan
Comments
Post a Comment