Antara Roman Sejarah dan Catatan Sejarah Tiga Kerajaan (Sam Kok)

Roman dan Sejarah

(Tanggapan atas pertanyaan tentang sumber referensi utama buku Penguasa Dinasti Han, Leluhur Minahasa karya Weliam H. Boseke) 

_______

Dalam sebuah seminar zoom yang diselenggarakan organisasi KKK (Kerukunan Keluarga Kawanua) tentang temuan sejarah ‘Leluhur Orang Minahasa berasal dari Dinasti Han’ oleh Weliam Boseke, intelektual otodidak, muncul satu pertanyaan sederhana namun penting untuk dibahas. Bagi saya, pertanyaan ini dapat menjadi pemantik membuka cakrawala berpikir menggapai terang kebenaran.

Pertanyaan itu terkait pemakaian sumber rujukan yang dipakai sang penulis (peneliti dan penemu), seolah diasumsikan bahwa naskah sejarah dipertentangkan secara ekstrim dengan naskah roman sejarah. Mengapa buku 三國演義 Sān Guó Yăn Yi  atau lebih dikenal The Romance of Three Kingdom (selanjutnya disingkat SGYI-RTK) karya Luo Guan Zhong justru lebih ditonjolkan atau dipakai dalam penulisan, daripada buku 三國志 Sān Guó Zhi yang berarti Catatan Sejarah tentang Tiga Negara selanjutnya disebut SGZ karya Chen Shou? 

Pertanyaan ini diasumsikan seolah jelas dilatari oleh anggapan bahwa buku SGZ lebih dianggap lebih memadai karena ditulis oleh sejarawan dari pada buku SGYI–RTK oleh sastrawan dalam arti yang rigid dengan pembedaan yang eksrim bahkan seolah kontradiktif.

Jadi buku SGZ lebih dianggap lebih diterima menjadi obyek kajian karena sungguh buku sejarah. Anggapa ini sepertinya berangkat dari ungkapan ‘Seni untuk Seni’ (L΄art  pour  L΄art), seolah seni tak ada hubungan langsung dengan kenyataan hidup. Hingga kini masih banyak orang terperangkap dengan slogan itu sehingga mengecilkan buku SGYI-RTK dalam ranah kajian ilmiah. 

Dengan mengacu pada kata ‘roman (Romance)’ di judul buku SGYI-RTK, maka langsung terpikir bahwa buku tersebut adalah sebuah novel, dan sebuah novel adalah karya rekaan alias fiktif, dan karya fiktif bersinggungan dengan dongeng, dan dongeng adalah seuatu yang bernuansa ‘ketidak masukaakalan’ sehingga kurang kuat menjadi obyek kajian sejarah secara ilmiah. Kira-kira begitu alur pemahaman itu sehingga memunculkan pertanyaan itu. 

Saat kini pengertian Roman dan Novel tak perlu dipertentangkan dan dianggap sama saja. Novel berasal dari bahasa Itali lalu menyebar ke Negara-negara berbahasa Inggris. Jika dirunut kebelakang lagi, maka istilah Novel berasal dari bahasa Latin Novellus lalu beralih ke bentuk deminutif Novus yang artinya ‘baru’. Disebut ‘baru’ berdasarkan kehadiran beberapa karya yang dianggap sebagai bentuk yang tidak sebagaimana biasa pada waktu itu.  Dalam kamus Merriam-Webster menyebut new and different from what has been known before. Dalam The Reiseof the Novel (1957) yang ditulis oleh Ian Watt, disebutkan bahwa istilah novel muncul pada awal abad 18 lewat karya-karya yang berakar ribuan tahun dari cerita-cerita klasik Yunani–romawi. Karya-karya itu hadir dalam bentuk disederhanakan (baca: dipendenkan). Miguel de Cervantes (penulis Don Quixote) dianggap sebagai novelis Eropa pertama.  Istilah novel masuk dan berkembang di Indonesia lewat kebudayaan berbahasa Inggris.  Sehingga banyak literatur maupun pendapat para ahli menyebutkan istilah itu berasal dari bahasa Inggris. Istilah Roman berasal dari bahasa Belanda. Bahasa Jerman juga menggunakan istilah ini, yakni der Roman. Karena bangsa Indonesia cukup kuat dipengaruhi oleh kebudayaan Inggris dan Belanda, maka kedua istilah itu dengan mudah berkembang secara bersamaan di tengah bangsa kita.  

Pada awalnya memang ada perbedaan, dimana novel dianggap lebih pendek dari roman. Roman berasal dari  genre romance yang berkembang di abad pertengahan. Berisi cerita tentang kepahlawanan, dan percintaan. Juga berkembang di Jerman, Belanda, Perancis dan bagian daratan Eropah lainnya. Sebaliknya Novel berasal dari bahasa Italia lalu kemudian berkembang di Inggris dan Amerika Serikat.  Perbedaan itu dapat juga ditelusuri dalam sejarah perkembangan kesusasteraan Indonesia, seperti perbandingan antara roman-roman angkatan balai pustaka dengan novel-nevel angkatan 45. Roman-roman angkatan balai pustaka biasanya melukiskan seluruh hidup seorang tokoh, dari masa kanak-kanak, dewasa hingga meninggal. Misalnya dalam karya Siti Nurbaya, Salah Asuhan. Sebaliknya, Novel-novel angkatan 45 hanya melukiskan sebagian dari hidup tokoh cerita, yakni bagian kehidupannya. Misalnya, Keluarga Gerilya dan Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer. Sederhananya, Roman beraliran romantik, sedangkan novel beraliran realisme, kadang-kadang naturalisme.

Dalam perkembangannya, aspek percintaan menjadi kental sehingga mengradasikan pengertian sebenarnya secara utuh. Karya-karya romanlebih menekankan pada percintaan. Oleh sebab itu muncul frase simbolik ‘ia romantis’ dan sebagainya.

Saat kini, kata novel lebih menonjol dari kata roman karena lebih umum digunakan. Contoh paling sederhana, lihat saja penjelasan pada rak-rak di took buku. Tersedia Novel-novel baru, bukan roman-roman baru. 

Roman atau Novel masuk dalam genre prosa, dan secara karakteristik bersisi rangkaian cerita yang panjang, maka dibedakan dengan genre cerita pendek. Ada kriteria ciri-ciri pembeda antara Novel/Roman dan cerita pendek. Namun masalah ini perlu wadah lain untuk menjelaskannya. Secara leksikal, kata roman dalam bahasa Belanda, Jerman bermakna pada wujud buku yang mengacu pada cerita panjang.  Contoh, jika ke toko buku dan pembeli mengucapkan ich möchte einen Roman kaufen Saya mau membeli sebuah Roman =Novel), maka penjual sudah tahu maksudnya dan akan mengantar ke bagian buku-buku fiksi (Novel).

Pada dasarnya, cerita fiktif apapun merupakan perwujudan  kehidupan nyata, sekalipun itu cerita dongeng dalam kategori folklore, seperti kumpulan cerita dari H.C. Anderesen dan Bruder Grimm. Contoh: Snow White, Cinderela dan sebagainya, termasuk dongeng-dongeng yang ada di Indonesia. Sayang kata ‘dongeng’ dalam bahasa Indonesia mengandung juga makna ‘ketidakmasukakalan’ sehingga cerita dongeng dipahami sebagai cerita ‘ketidakmasukakalan’. Padahal cerita dongeng dalam bahasa Inggris adalah Fairy tale, bahasa Belanda adalah Sprookje, dan bahasa Jerman Märchen. Sedangkan kata ‘dongeng’ yang bermakna ‘ketidakmasukakalan’ dalam bahasa Inggris nonsense, bahasa Belanda onzin, dan bahasa Jerman Unsinn. 

Menurut Teeuw, karya rekaan diacu kembali ke kenyataan. Hubungan antara kenyataan dan rekaan dalam sastra adalah hubungan dialektik. Mimesis tidak mungkin tanpa kreasi, tetapi kreasi juga tidak mungkin tanpa mimesis. Untuk menguatkan pernyataan ini, ia mengutip pendapat Wolfgang Iser : statt deren bloszes Gegenteil zu sein, teilt Fiktion uns etwas über Wirklichkeit mit (rekaan bukan merupakan lawan kenyataan, tetapi memberitahukan sesuatu mengenai kenyataan).

Mengacu pada penjelasan tersebut dan mengingat roman terdiri dari beberapa genre, antaranya ‘roman sejarah’, maka buku SGYI-RTK itu tidak mungkin tidak dapat dijadikan obyek penelitian sejarah. Dinamika cerita memenuhi kriteria yang disebutkan sebelumnya, yakni berisi tentang kepahlawanan dan percintaan. Oleh sebab itu, oleh penulis digunakan kata Romance.  Lagipula buku kedua itu memang faktanya berisi 70-80 kisah sejarah.

Beda buku roman sejarah dan sejarah (non novel) hanyalah pada bentuk bahasa dan struktur kalimat, bukan pada esensi peristiwa yang diceritakan. Buku roman sejarah menggunakan bahasa yang lebih bebas dan komunikatif dengan pembaca secara umum, dan tidak jarang mempertimbangkan unsur dramatisasi.

Sebetulnya, pemahaman sejarah lewat novel/roman bukan hal baru. Pasti banyak orang mengenal novel ‘Uncle Tom Cabin’ karya Herriet Beecher Stowe. Novel dengan gaya sentimental ini tidak saja member hiburan pada pembaca, tetapi juga menjadi pemicu munculnya gerakan anti perbudakan dan memengaruhi kebijakan pemerintah Amerika. Andy Amirudin dalam jurnal sastra menyebutkan, Masayarakat Amerika terbuka matanya untuk melihat kekejaman perbudakan dan hal tersebut memberikan mereka keberanian untuk melawan kejamnya perbudakan … latar belakang penciptaan novel Uncle Tom’s Cabin diakui oleh Harriet Beecher Stowe sebagai bentuk kecaman terhadap undang-undang budak yang melarikan diri (Fugitive Slave Act).  Hal  yang sama terjadi juga di Indonesia dengan adanya novel Max Havelar karya Douwes Dekker atau Multatuli. Buku ini menjadi bahan kajian sejarah tentang kebijakan tanaman paksa yang menguntungkan kaum penjajah. Hingga kini masih sering didiskusikan atau seminarkan dalam kajian sejarah. Dengan kata lain, bila ingin meneliti tentang tanaman paksa, maka buku ini dapat menjadi rujukan pula.

Logikanya, bagaimana mungkin suatu pemerintah membuat suatu kebijakan baru hanya berlandaskan pada sebuah novel? Fungsi novel (baca sastra) adalah mengekspresikan kehidupan dan merefleksikan kehidupan. Bronowski secara tegas menyatakan bahwa sejarah telah mencatat akan pemanfaatan energi alam sebagai kekuatan besar dalam menggerakan manusia untuk keluar dari kepasarahan statis menuju pada kualitas kehidupan yang lebih baik. Energi yang menjadi  perhatian utama dan berkembang pesat (muncul banyak ciptaan) seperti “badai”,  tidak hanya dilihat dalam ilmu pengetahuan, tetapi dapat juga dilihat dalam bidang seni (baca: sastra).   

Dalam konteks analisis struktur sastra, buku SGYZ-RTK yang memuat kata ‘Romance’ di judulnya dapat juga dikatakan sebagai buku sejarah dalam pengertian non fiksi. Hal ini dapat dilihat pada:

a) Bahasa yang digunakan menggunakan bahasa denotatif yang mudah diikuti sebagaimana bentuk penceritaan pada buku sejarah non fiktif.  Sederhannya seperti  dalam buku pelajaran sejarah. 

b) Menggunakan alur maju. 

c) Dan yang terpenting sebagaimana menceritakan kisah sejarah adalah tidak memunculkan dialog seperti ciri khas sebuah cerita fiktif berbentuk novel. Demikian juga sistim penceritaan sebuah dialog menggunakan tanda-tanda baca standard. 

d) Menggunakan point of view orang ketiga karena penulis sebagai pencerita, sebagai mengurai suatu peristiwa dalam buku sejarah non novel. 

Akhirnya, mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi bagian dari diskusi dalam kerangka pengayaan pengetahuan, tidak saja menyangkut pembahasan buku temuan dari Weliam H. Boseke itu, tetapi juga pembahasan secara umum.#

John Puah


Comments

  1. Bagaimana cara untuk mendapatkan buku bapak Weliam Boseke ?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Arti dan Sejarah Fam Minahasa: WAYONG

"Bahasa menunjukkan bangsa"

Burung Manguni dan Local Wisdom Leluhur Minahasa