Tanggapan (1) atas Sanggahan atas Buku Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa
TANGGAPAN ATAS SANGGAHAN ATAS BUKU WELIAM BOSEKE
Farry Oroh belum memahami temuan besar Weliam Boseke. Dengan 9 dalil bantahannya atas temuan Boseke, Bung Farry memperlihatkan seberapa daya tangkap dan keterbukaannya untuk menggali lebih dalam sebuah temuan besar. Farry tidak tahu bahwa buku perdana itu adalah buku petunjuk umum untuk buku2 selanjutnya yang berisi lebih banyak bahasa Minahasa dari bahasa Han, dan karena itu diambil kesimpulan antisipatif bahwa leluhur Minahasa dari Han bahkan secara spesifik adalah penguasa Dinasti Han.
Leluhur Minahasa bukan dari Mongol atau dari Jepang atau dari Filipina misalnya yang pernah diklaim orang hanya dengan rujukan ala kadarnya. Bukan juga dari Yunan Selatan sebagaimana pernah diajarkan dalam sejarah umum di sekolah menengah pertama. Terakhir dikatakan berasal dari Israel dengan penafsiran tertentu atas beberapa ayat kitab Perjanjian Lama. Walau disebutkan sekedar contoh untuk menyindir demikian gampang membuat sebuah cerita cocokologi. Tapi makin jelas seberapa orang paham temuan Boseke ini yang mengandalkan pemahaman baru akan dasar realitas bahasa tersebut (ontologis) dan cara mengenalinya (epistemologi) dan cara memaknai dan menilainya (etis estetika)
Semua ini dikemukakan karena orang mulai bingung dan makin kritis tapi tanpa referensi yang tepat tentang kisah leluhur yang sekian lama hanya berdasarkan mitos dan cerita pengulangan tertentu dari para penulis Eropa yang dibebeki oleh sebagian penulis Minahasa atas nama kebanggaan semu pada kemuliaan ras dan pengetahuan Eropah.
Weliam datang dengan bukti temuan yang lebih meyakinkan, bahkan sampai sekarang belum terbantahkan dari sisi linguistik bandingan. Akan tetapi orang menolak dengan argumen "sana sini" dan sebagian masih berdasarkan keyakinan dan pengetahuan lama. Bahkan ada yang masih terusik dengan perasaan dan pikiran tahayul atau kecemasan oleh cap ideologisme atau pun fanatisme tertentu. Ada yang karena kurang paham dan ada yang membuat tafsiran aneh seolah temuan besar Boseke ini diperlakukan seperti sebuah syair yang sekedar bermuslihat kata atau alias sekedar kelihaian bercocok kata palsu dan artificial, sampai pada tuduhan cocokologi yang sangat mengada-ada dan tendensius.
Akan tetapi bantahan dari bung Farry itu menarik dan patut diapresiasi tinggi, karena dengan menulis buku sebagai bantahan akan sangat berkontribusi positif bagi dialog rasional dan progresif, daripada diam dalam kelesuan status quo nda kemana-mana, hanya sekedar menolak dan tak memberikan argumen. Namun demikian sebuah argumen apalagi untuk sekedar membantah sebuah temuan, nampaknya hanya akan menjadi sebuah sensasi konyol atau ketidaktahuan belaka yang tidak menarik lagi. Karena ada ahli mengatakan bahwa satu temuan bisa membantah seribu teori, apalagi sekedar kompilasi tulisan.
Dari sisi pemahaman bahasa, jelas sekali Bung Farry tidak memahami perbedaan mencolok format bahasa mono silabel dan multi silabel. Sangat mungkin Farry juga tidak tahu bahasa Han/Mandarin yang mono syllabel yang memang akan sangat menyulitkan dia untuk memahami temuan besar Weliam ini. Dan memang itulah kesulitan terbesar dan kesalahan terbesar para peneliti atau yang mengklaim diri ahli bahasa karena mendekati bahasa Minahasa dengan pendekatan kontemporer yakni multi silabel padahal tesis temuan Weliam jelas tentang bahasa Han yang mono silabel. Kira2 demikian ungkapan dari budayawan Benni Matindas dalam seminar perdana buku Boseke ini di Kalbis Institute.
Weliam justru berhasil mengungkapkan ada banyak kejanggalan dan keanehan yang ada dalam bahasa Minahasa kontemporer dengan pendekatan mono silabel (ideografis) yakni bahasa Han yang juga menjadi akar dari bahasa Mandari modern sekarang ini.
Kejanggalan dan keanehan dalam bahasa Minahasa menurut Boseke terjadi karena pengaruh bahasa multi silabel, terutama yang memakai huruf Latin. Karena perkenalan kemajuan teknologi orang Minahasa dengan kaum kolonialis maka lambat laun nenek moyang Minahasa mulai menulis dan membaca tulisan multi syllabel yang alfabetis berupa gabungan huruf dan membentuk kata lalu makna.
Bila saja kita bisa membuka pikiran dan menempatkan diri kita pada zaman sebelum kolonial masuk dan menguasai seluruh kehidupan leluhur Minahasa, maka kita mungkin bisa menemukan bagaimana para leluhur kita masih sangat kental dengan bahasa asli mereka dari Han yg mono silabel itu.
Bagi saya sendiri, yang awalnya menganggap remeh dan antipati pada temuan Boseke ini, justru perlahan mulai membuka pikiran dan berusaha memahami dan akhirnya bisa menerima temuan besar ini. Satu pemahaman bahwa bahasa di Tataaran Dua, kampungku dilahirkan dan dibesarkan sudah berbeda dengan asalnya yakni Tombulu dan berbeda dengan tetangga terdekat Tataaran Satu, Koya dan Tondano. Padahal umur kampungku baru sekitar 200-300 tahun. Bagaimana dengan bahasa Minahasa kalau dihubungkan dengan bahasa Han lewat bocah-bocah yang diselamatkan dari perang tiga negara, Sam Kok, pada abad ketiga, sekitar 1700 tahun lalu?
Sebagai perbandingan juga, bahasa Mandarin yang masih mono silabel saja sekitar 50% sudah tidak sama dengan bahasa Han yang menjadi akarnya.
Ada ahli sejarah bahasa di Hongkong yang membuat hipotesis bahwa 50% bahasa Han yang hilang di Tiongkok bisa ditemukan di Minahasa. Tapi kita mesti tambahkan catatan "kalau Minahasa masih memakai format mono syllabel". Ini makin sulit tentunya karena sehari-hari orang Minahasa sudah memakai lisan dan tulisan dengan format multi silabel.
Akan tetapi temuan Weili telah membuka gerbang besar untuk penelitian lebih lanjut. Misalnya Boseke sendiri masih terus meneliti dan tak lama lagi akan menerbitkan buku 700 nama fam Minahasa dengan format bahasa Han. Bukan cuma kata dan arti, juga kisahnya yang selalu terkait dengan Kaisar Liu Bei dalam konteks perang terbesar di Tiongkok hampir dua ribu tahun lalu.
Seandainya ada yg punya kemampuan bahasa Minahasa dan Han/Mandarin seperti Boseke ini ya, barangkali kita akan mendapatkan diskusi ilmiah yang "Apple to Apple", dan tidak menghabiskan energi dengan ocehan yang umum sudah pahami. Kita lei pernah seperti bung Farry dalam bbrp bagian soal bahasa kwa. Sekali-kali sebagai orang intelek untuk berpikir out of the box. Tapi tentu temuan Wely ini bukan berarti sudah tak punya kekurangan dan sudah mutlak benar. Walau sampai sejauh ini, menyitir ungkapan pemerhati budaya, Max Wilar, bahwa belum ada sanggahan yang mampu membantah temuan Wely ini dari sisi linguistik, kiranya termasuk bantahan dari bung Farry Oroh.
Kalau seandainya Brur Farry Oroh masih belum menemukan cukup kata dan ungkapan dalam buku perdana itu, maka dalam buku kedua ini akan lebih banyak. Sengaja Boseke fokus meneliti nama-nama fam Minahasa selama dua tahun sejak terbitan buku perdana Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa. Masih banyak lagi yang perlu diteliti tentunya. Padahal temuan dia ini sudah melampaui apa yang disarankan oleh ahli bahasa, sejarah dan budaya dua tahun lalu di Unsrat dalam bedah buku _Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa_, bahwa sebuah bahasa bisa disebut eksis minimal ada 200 kata yang digunakan. Nah temuan Weliam H Boseke ini khusus dalam nama fam Minahasa saja sudah 700 ungkapan (bukan kata saja).
Kita tentu bukan lagi mengajak untuk mengembalikan bahasa Minahasa sekarang ke bahasa Han. Itu mustahil. Tetapi mengetahui akar bahasa itu sangat penting supaya kita tidak makin tersesat dan tidak dikatakan lupa akan jatidiri sendiri.
Baiklah temuan Boseke ini mengajak para peneliti bahasa dan sejarah untuk mencari tahu lebih apa sesungguhnya bahasa bahkan bangsa Minahasa itu sendiri. Karena pepatah lama mengatakan "bahasa menunjukkan bangsa"!
Belajarlah bahasa Minahasa yg sekarang ini, jangan sampai hilang, karena memang sudah terancam menghilang. Bisa jadi karena memang sudah terlalu banyak kerancuan akibat tiada lagi patokan berbahasa baik dan benar, tapi yang lebih penting adalah kecintaan berbahasa Minahasa dalam pelbagai tutur jangan sampai meluntur. Dan bagus juga orang Minahasa belajar bahasa Mandarin, karena tidak ada lagi yg namanya bahasa Han seperti yang dulu. Bahasa itu berkembang toh. Sedangkan bahasa Indonesia saja sudah mengalami beberapa kali berganti ejaan, padahal bunyi relatif masih sama. Nah, dalam hal bunyi inilah, kemungkinan masih banyak kesamaan yang bisa ditemukan antara Han dan Minahasa. Coba perhatikan orangtua di pedesaan yg masih berbahasa Minahasa, bunyi-bunyi yang dikeluarkan sangat banyak yang tak mampu disalin dalam bahasa dengan format multi silabel seperti bahasa Melayu yang memakai abjad Latin.
Kita juga tidak hendak meraih kebanggaan semu karena keturunan penguasa Dinasti yang di negeri asalnya sudah menjadi berkembang hebat dari sisi jumlah dan kualitas, yang sudah menguasai dunia secara ekonomi bahkan militer, mengalahkan negara adi daya Amerika Serikat. Tidak. Kita sudah hampir dua ribu tahun tinggal di tanah Minahasa yang hampir 75 tahun lalu sudah kita proklamasikan dan perjuangkan berkibarnya merah putih (ingat peristiwa heroik 14 Februari di Manado).
Mengenali sejarah asal usul leluhur adalah wajib dan hak setiap anak cucu generasi Minahasa di mana pun berada sampai kapanpun.#
Farry Oroh belum memahami temuan besar Weliam Boseke. Dengan 9 dalil bantahannya atas temuan Boseke, Bung Farry memperlihatkan seberapa daya tangkap dan keterbukaannya untuk menggali lebih dalam sebuah temuan besar. Farry tidak tahu bahwa buku perdana itu adalah buku petunjuk umum untuk buku2 selanjutnya yang berisi lebih banyak bahasa Minahasa dari bahasa Han, dan karena itu diambil kesimpulan antisipatif bahwa leluhur Minahasa dari Han bahkan secara spesifik adalah penguasa Dinasti Han.
Leluhur Minahasa bukan dari Mongol atau dari Jepang atau dari Filipina misalnya yang pernah diklaim orang hanya dengan rujukan ala kadarnya. Bukan juga dari Yunan Selatan sebagaimana pernah diajarkan dalam sejarah umum di sekolah menengah pertama. Terakhir dikatakan berasal dari Israel dengan penafsiran tertentu atas beberapa ayat kitab Perjanjian Lama. Walau disebutkan sekedar contoh untuk menyindir demikian gampang membuat sebuah cerita cocokologi. Tapi makin jelas seberapa orang paham temuan Boseke ini yang mengandalkan pemahaman baru akan dasar realitas bahasa tersebut (ontologis) dan cara mengenalinya (epistemologi) dan cara memaknai dan menilainya (etis estetika)
Semua ini dikemukakan karena orang mulai bingung dan makin kritis tapi tanpa referensi yang tepat tentang kisah leluhur yang sekian lama hanya berdasarkan mitos dan cerita pengulangan tertentu dari para penulis Eropa yang dibebeki oleh sebagian penulis Minahasa atas nama kebanggaan semu pada kemuliaan ras dan pengetahuan Eropah.
Weliam datang dengan bukti temuan yang lebih meyakinkan, bahkan sampai sekarang belum terbantahkan dari sisi linguistik bandingan. Akan tetapi orang menolak dengan argumen "sana sini" dan sebagian masih berdasarkan keyakinan dan pengetahuan lama. Bahkan ada yang masih terusik dengan perasaan dan pikiran tahayul atau kecemasan oleh cap ideologisme atau pun fanatisme tertentu. Ada yang karena kurang paham dan ada yang membuat tafsiran aneh seolah temuan besar Boseke ini diperlakukan seperti sebuah syair yang sekedar bermuslihat kata atau alias sekedar kelihaian bercocok kata palsu dan artificial, sampai pada tuduhan cocokologi yang sangat mengada-ada dan tendensius.
Akan tetapi bantahan dari bung Farry itu menarik dan patut diapresiasi tinggi, karena dengan menulis buku sebagai bantahan akan sangat berkontribusi positif bagi dialog rasional dan progresif, daripada diam dalam kelesuan status quo nda kemana-mana, hanya sekedar menolak dan tak memberikan argumen. Namun demikian sebuah argumen apalagi untuk sekedar membantah sebuah temuan, nampaknya hanya akan menjadi sebuah sensasi konyol atau ketidaktahuan belaka yang tidak menarik lagi. Karena ada ahli mengatakan bahwa satu temuan bisa membantah seribu teori, apalagi sekedar kompilasi tulisan.
Dari sisi pemahaman bahasa, jelas sekali Bung Farry tidak memahami perbedaan mencolok format bahasa mono silabel dan multi silabel. Sangat mungkin Farry juga tidak tahu bahasa Han/Mandarin yang mono syllabel yang memang akan sangat menyulitkan dia untuk memahami temuan besar Weliam ini. Dan memang itulah kesulitan terbesar dan kesalahan terbesar para peneliti atau yang mengklaim diri ahli bahasa karena mendekati bahasa Minahasa dengan pendekatan kontemporer yakni multi silabel padahal tesis temuan Weliam jelas tentang bahasa Han yang mono silabel. Kira2 demikian ungkapan dari budayawan Benni Matindas dalam seminar perdana buku Boseke ini di Kalbis Institute.
Weliam justru berhasil mengungkapkan ada banyak kejanggalan dan keanehan yang ada dalam bahasa Minahasa kontemporer dengan pendekatan mono silabel (ideografis) yakni bahasa Han yang juga menjadi akar dari bahasa Mandari modern sekarang ini.
Kejanggalan dan keanehan dalam bahasa Minahasa menurut Boseke terjadi karena pengaruh bahasa multi silabel, terutama yang memakai huruf Latin. Karena perkenalan kemajuan teknologi orang Minahasa dengan kaum kolonialis maka lambat laun nenek moyang Minahasa mulai menulis dan membaca tulisan multi syllabel yang alfabetis berupa gabungan huruf dan membentuk kata lalu makna.
Bila saja kita bisa membuka pikiran dan menempatkan diri kita pada zaman sebelum kolonial masuk dan menguasai seluruh kehidupan leluhur Minahasa, maka kita mungkin bisa menemukan bagaimana para leluhur kita masih sangat kental dengan bahasa asli mereka dari Han yg mono silabel itu.
Bagi saya sendiri, yang awalnya menganggap remeh dan antipati pada temuan Boseke ini, justru perlahan mulai membuka pikiran dan berusaha memahami dan akhirnya bisa menerima temuan besar ini. Satu pemahaman bahwa bahasa di Tataaran Dua, kampungku dilahirkan dan dibesarkan sudah berbeda dengan asalnya yakni Tombulu dan berbeda dengan tetangga terdekat Tataaran Satu, Koya dan Tondano. Padahal umur kampungku baru sekitar 200-300 tahun. Bagaimana dengan bahasa Minahasa kalau dihubungkan dengan bahasa Han lewat bocah-bocah yang diselamatkan dari perang tiga negara, Sam Kok, pada abad ketiga, sekitar 1700 tahun lalu?
Sebagai perbandingan juga, bahasa Mandarin yang masih mono silabel saja sekitar 50% sudah tidak sama dengan bahasa Han yang menjadi akarnya.
Ada ahli sejarah bahasa di Hongkong yang membuat hipotesis bahwa 50% bahasa Han yang hilang di Tiongkok bisa ditemukan di Minahasa. Tapi kita mesti tambahkan catatan "kalau Minahasa masih memakai format mono syllabel". Ini makin sulit tentunya karena sehari-hari orang Minahasa sudah memakai lisan dan tulisan dengan format multi silabel.
Akan tetapi temuan Weili telah membuka gerbang besar untuk penelitian lebih lanjut. Misalnya Boseke sendiri masih terus meneliti dan tak lama lagi akan menerbitkan buku 700 nama fam Minahasa dengan format bahasa Han. Bukan cuma kata dan arti, juga kisahnya yang selalu terkait dengan Kaisar Liu Bei dalam konteks perang terbesar di Tiongkok hampir dua ribu tahun lalu.
Seandainya ada yg punya kemampuan bahasa Minahasa dan Han/Mandarin seperti Boseke ini ya, barangkali kita akan mendapatkan diskusi ilmiah yang "Apple to Apple", dan tidak menghabiskan energi dengan ocehan yang umum sudah pahami. Kita lei pernah seperti bung Farry dalam bbrp bagian soal bahasa kwa. Sekali-kali sebagai orang intelek untuk berpikir out of the box. Tapi tentu temuan Wely ini bukan berarti sudah tak punya kekurangan dan sudah mutlak benar. Walau sampai sejauh ini, menyitir ungkapan pemerhati budaya, Max Wilar, bahwa belum ada sanggahan yang mampu membantah temuan Wely ini dari sisi linguistik, kiranya termasuk bantahan dari bung Farry Oroh.
Kalau seandainya Brur Farry Oroh masih belum menemukan cukup kata dan ungkapan dalam buku perdana itu, maka dalam buku kedua ini akan lebih banyak. Sengaja Boseke fokus meneliti nama-nama fam Minahasa selama dua tahun sejak terbitan buku perdana Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa. Masih banyak lagi yang perlu diteliti tentunya. Padahal temuan dia ini sudah melampaui apa yang disarankan oleh ahli bahasa, sejarah dan budaya dua tahun lalu di Unsrat dalam bedah buku _Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa_, bahwa sebuah bahasa bisa disebut eksis minimal ada 200 kata yang digunakan. Nah temuan Weliam H Boseke ini khusus dalam nama fam Minahasa saja sudah 700 ungkapan (bukan kata saja).
Kita tentu bukan lagi mengajak untuk mengembalikan bahasa Minahasa sekarang ke bahasa Han. Itu mustahil. Tetapi mengetahui akar bahasa itu sangat penting supaya kita tidak makin tersesat dan tidak dikatakan lupa akan jatidiri sendiri.
Baiklah temuan Boseke ini mengajak para peneliti bahasa dan sejarah untuk mencari tahu lebih apa sesungguhnya bahasa bahkan bangsa Minahasa itu sendiri. Karena pepatah lama mengatakan "bahasa menunjukkan bangsa"!
Belajarlah bahasa Minahasa yg sekarang ini, jangan sampai hilang, karena memang sudah terancam menghilang. Bisa jadi karena memang sudah terlalu banyak kerancuan akibat tiada lagi patokan berbahasa baik dan benar, tapi yang lebih penting adalah kecintaan berbahasa Minahasa dalam pelbagai tutur jangan sampai meluntur. Dan bagus juga orang Minahasa belajar bahasa Mandarin, karena tidak ada lagi yg namanya bahasa Han seperti yang dulu. Bahasa itu berkembang toh. Sedangkan bahasa Indonesia saja sudah mengalami beberapa kali berganti ejaan, padahal bunyi relatif masih sama. Nah, dalam hal bunyi inilah, kemungkinan masih banyak kesamaan yang bisa ditemukan antara Han dan Minahasa. Coba perhatikan orangtua di pedesaan yg masih berbahasa Minahasa, bunyi-bunyi yang dikeluarkan sangat banyak yang tak mampu disalin dalam bahasa dengan format multi silabel seperti bahasa Melayu yang memakai abjad Latin.
Kita juga tidak hendak meraih kebanggaan semu karena keturunan penguasa Dinasti yang di negeri asalnya sudah menjadi berkembang hebat dari sisi jumlah dan kualitas, yang sudah menguasai dunia secara ekonomi bahkan militer, mengalahkan negara adi daya Amerika Serikat. Tidak. Kita sudah hampir dua ribu tahun tinggal di tanah Minahasa yang hampir 75 tahun lalu sudah kita proklamasikan dan perjuangkan berkibarnya merah putih (ingat peristiwa heroik 14 Februari di Manado).
Mengenali sejarah asal usul leluhur adalah wajib dan hak setiap anak cucu generasi Minahasa di mana pun berada sampai kapanpun.#
Comments
Post a Comment