Buku ini ilmiah

21-12-18. Dalam sebuah rapat informal kawanua dengan peserta terbatas yang difasilitasi oleh pak Carlo Brix Tewu, Deputi Kemenkopulhukam, seijin Admin KIM saya menawarkan buku Leluhur Minahasa Penguasa Dinasti Han, karya Weliam H. Boseke. Dari peserta yang hadir, beberapa ternyata belum memiliki buku spesial tersebut padahal sudah menggemparkan kalangan akademik dan masyarakat yang pernah mengikuti seminar dan bedah buku tersebut di pelbagai kesempatan, antara lain di Universitas Negeri Manado, Kantor Walikota Manado, Universitas Sam Ratulangi, di Kantor Walikota Tomohon, di Kalbis Institute Universitas Bina Nusantara dan AMI ASMI di Jakarta.

"Oh saya juga mau beli. Sudah beberapa kali mau buku ini, baru kali ini terwujud." Ungkap Prof Lucky Sondakh sambil membuka dompetnya, diikuti oleh beberapa yang hadir dan tertarik memilikinya.

Tak menunggu lama, sambil memanfaatkan waktu makanan disajikan di meja ruang khusus hotel bintang 5 di kawasan Semanggi itu, Profesor emeritus kita ini langsung membuka bungkus plastik buku dan mulai membolak-balik dengan cepat halaman2 buku ini, lalu fokus beberapa saat di daftar pustaka di bagian akhir buku. Tak sampai 2 menit, beliau langsung tutup buku dan dengan cepat berkomentar singkat, "Memang buku ini ilmiah! Bagus."

Entahlah apa alasannya memberikan penilaian singkat itu. Bisa jadi sudah pernah membaca resensi dan diskusi2 tentang buku ini di grup WA Kawanua Informal Meeting. Sebuah grup diskusi yang merepresentasikan pelbagai tokoh dan aktivis tou kawanua dari pelbagai kelompok dan profesi, sipil dan militer, swasta dan gerejawi.

Bisa juga hanya dari melihat daftar pustaka dan membaca kilat buku yg hampir 300 halaman tersebut. Maklum beliau adalah seorang dosen bahkan sampai puncak karier sebagai rektor universitas terbesar di Sulawesi Utara, yang tentunya sering membaca dan menulis artikel dan buku ilmiah. Di umurnya yang tidak muda lagi, sebenarnya beliau sudah pensiun sebagai pegawai. Namun mungkin karena kepakaran dan gelarnya, beliau masih mengabdikan dirinya bagi negara dan bangsa melalui pendidikan dan lembaga2 profesi formal dsn non formal yang membutuhkan keahlian beliau.

Buku ini sendiri sejak dipublikasikan bahkan sebelumnya sudah menggemparkan dan menimbulkan diskusi dan malah sampai perdebatan pro kontra.

Itu wajar saja. "Memang buku ini belum tentu sudah pasti bisa memberikan kesimpulan bahwa Leluhur Minahasa berasal dari Penguasa Dinasti Han. Tapi temuan-temuan ini begitu masuk akal dan cocok dengan tingkat kepastian ilmiah yang sukar dibantah oleh ilmuwan." Demikian penegasan dari Dr. Perry Rumengan, satu dari 3 profesor etnomusikologi di Nusantara, yang pertama mempromotori temuan dan publikasi buku ini. Dia mengaku dengan penuh kerendahan hati akan merombak belasan buku karya tulisnya sendiri setelah membaca hasil temuan selama paling tidak 10 tahun penelitian ini bolak balik di negeri Minahasa, Tiongkok, dan negeri2 di sekitarnya. Senada dengan Profesor yg juga menjadi salah satu penasihat deputi presiden di bidang musik nusantara, filsuf budayawan Max Wilar menyatakan, "Banyak yang menolak atau mendebat temuan ini tapi kebanyakan belum membaca karya monumental ini. Sampai saat ini belum ada yang bisa memberikan bantahan meyakinkan dari sisi linguistik yang menjadi titik kajian buku Weliam ini."

Dan yang pasti, selama diskusi dan perdebatan terus berlangsung di antara akademisi dan masyarakat Minahasa dan Indonesia umumnya, buku publikasi Penerbit Pohon Cahaya Yogyakarta, 2018 (cetakan kedua) dan Desember 2017 (cetakan pertama) ini telah sampai ke manca negara, dan secara istimewa telah membuat akademisi dan sejarawan di negeri yang mayoritasnya orang Han ini justru tertarik dengan buku ini dan mengapresiasi temuan besar ini.

Dr. Joseph Chan seorang ahli sejarah dari Beibu University punya asumsi hipotetis bahwa dengan temuan Weliam ini, 50% bahasa Han kuno bisa ditelusuri lagi di Minahasa. Ya sudah ada dua Universitas di sana yang akan menandatangani kontrak penelitian lanjut dan penerbitan dalam bahasa Mandarin. Komunitas Kawanua dan Indonesia di Hongkong bahkan pernah mengundang penulis memaparkan temuan ini, dan mereka terharu serta tergerak turut menjadi perantara makin tersebarnya karya temuan ini di kalangan akademisi dan peminat sejarah khususnya bahasa.

Akses dan titik temu para ahli terletak pada pendekatan bandingan bahasa dalam sejarah yang menjadi kajian utama penelitian. Akademisi di Tiongkok sudah memulai, bagaimana dengan akdemisi atau ilmuwan dari kampus2 yg berada di Indonesia khususnya di bumi Toal Lumimuut?

Mungkin bisa dimulai dengan membaca dan mempelajari buku ini, dan mengadakan diskusi dan bedah buku ini. Nantikan buku kedua yang lebih fokus pada uraian tentang nama2 fam Minahasa dalam kaligrafi dan latinisasi bahasa Han serta kisah yang melatarinya, yang banyak terkait dengan kisah klasik perang tiga negeri Sam Kok seputar abad kedua dan ketiga Masehi. Tolle et lege!#stefir

Comments

  1. Kalo kita pergi ke kampung2 Minahasa atau daerah pedesaan nya,pengunjung pasti akan terheran heran ,Karena begitu banyak orang minahasa yang berkulit kuning Langsat ,bermata sipit dan menampakkan ciri2 spt org Tionghoa pada umumnya,bahkan hampir tidak dapat dibedakan.Tentunya yg sudah berbaur dengan sub suku lain pasti berbeda dengan Tionghoa pada umumnya,misalnya berkulit sawo matang dlsb

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Arti dan Sejarah Fam Minahasa: WAYONG

"Bahasa menunjukkan bangsa"

Burung Manguni dan Local Wisdom Leluhur Minahasa