Posts

Showing posts from November, 2020

Filologi: Bahasa Minahasa Bernilai Tinggi, Mengapa Ditinggalkan?

Makin ditelusuri dalam pelbagai referensi lama, tesis Boseke terkait leluhur Minahasa makin terverifikasi!  Beberapa ahli dulu ternyata telah memuat pelbagai dokumentasi baik catatan etnografis maupun berdasarkan penelitian, yang mendukung tesis dengan bukti temuan yg sangat  sulit dibantah. Secara khusus temuan bahasa Minahasa sebagai bahasa dengan nilai susastra tinggi itu makin tersingkap. Secara filologi atau ilmu tentang bahasa kuno, bahasa Minahasa  adalah bahasa sastra klasik dari budaya agung Han (Weliam H. Boseke), yang diusulkan Dr. Benni E. Matindas disebut bahasa etik! Peneliti bahasa Minahasa asal Eropa, Dr. Adriani, pernah menyesalkan bahwa orang Minahasa meninggalkan bahasa leluhur yg mempunyai filologi yang tinggi. Orang Minahasa pernah melihat bahasa Melayu sebagai jalan menuju kemajuan dalam pergaulan di Nusantara, lalu kembali ke bahasa Belanda untuk maju dalam ilmu pengetahuan, tapi sebenarnya mereka sudah punya bahasa leluhur sendiri yang sedemikian t...

MEMBACA PENGUASA DINASTI HAN, LELUHUR MINAHASA (2)

Oleh: Ambrosius M. Loho Dalam tulisan sebelumnya penulis menyoroti soal pentingnya metode dalam sebuah penelitian-penemuan yang digunakan oleh Boseke dalam karya berjudul Penguasa Dinasti Han: Leluhur Minahasa. Di sana tampak jelas metode yang digunakan Boseke yakni falsifikasi a la Popper, kendati demikian, Boseke tidak menyadari bahwa metode tersebut telah digunakannya. Maka tulisan tersebut, cukup mampu memperkuat tesis dasar Boseke dalam karyanya itu. Tulisan berikut ini, bukan untuk mengkonfirmasi bahwa penulis secara penuh meyakini kebenaran penemuan Boseke, tetapi justru memperkuat beberapa hal lain, yang menurut hemat penulis, sangat perlu didudukkan pada tempatnya, termasuk oleh para komentator, kritikus dan siapa saja yang ingin menelaah karya Boseke. Hal itu perlu karena merupakan bagian dari metode falsifikasi (?).  Dalam beberapa diskusi terkait buku Boseke, tampak jelas bahwa tanggapan yang dikemukakan, tidak lebih dari sebuah kritikan, bahkan terdapat tanggapan yan...

PENTINGNYA METODE DALAM SEBUAH PENELITIAN/PENEMUAN: MEMBACA PENGUASA DINASTI HAN: LELUHUR MINAHASA (1)

Oleh: Ambrosius M. Loho Selang dua tahun terakhir, pegiat budaya secara khusus budaya Minahasa, juga berbagai forum-forum diskusi tentang Minahasa dan ke-Minahasaan, disuguhkan oleh karya Welliam Boseke berjudul Penguasa Dinasti Han: Leluhur Minahasa. Sekilas buku ini fenomenal, tapi justru menimbulkan ‘tanya’ atas benarnya fakta penemuan ini. Banyak yang mempertanyakan, tapi tidak sedikit yang menerima, dengan pelbagai catatan kritis. Demikian juga, forum-forum diskusi seputar Minahasa, justru bersikeras tidak sejalan jika dikatakan bahwa leluhur Minahasa adalah Dinasti Han. Bahkan sejurus dengan itu, ada klaim bahwa buku itu hasil dari ‘cocokologi’ penulis, juga dianggap sebagai ‘cucokologi’. Entah apa maksud dari klaim-klaim ini. Sebagai sebuah buku, tentu perlu diapresiasi kehadiran buku ini. Walaupun sejauh yang penulis ketahui, buku ini bukan untuk klaim absolut atas sebuah temuan. Karena sebuah temuan memang harus diuji, ditelaah dan dibuktikan kebenarannya, sebisa mungkin dari ...

ITU PADI LADANG, NAK...! (Siapa pemilik ilmu pengetahuan?)

Tulisan ini tidak ilmiah! Tapi tak apalah. Yang ilmiah juga datang dari tak ilmiah. Itu kata orang.   Meski ragu-ragu ku tetap menulis karena kebenaran filsafat bermula dari keragu-raguan. Ah lagi-lagi itu kata orang, tak mampu aku mencernanya.  Hanya kusadar, kehadiran penemuan Weliam H. Boseke (WHK) telah menyentak banyak orang, dan melewati batas budaya. Ya, benar. Pemerhati dan peduli tidak saja datang dari orang Minahasa, tetapi juga dari mereka mulanya tak tahu dimana Minahasa itu berada.  Paling seru ketika penemuan ini berada di antara kaum yang merasakan sebagai akademikus. Penjelasan harus meliuk-liuk menembus nalar yang terperangkap dalam kebekuan berpikir. Bukan tak paham.  Ini hanya sekedar tak bijak. Karena bersikap bijak dianggap akan merendahkan eksistensi diri, apalagi sang penemu ini hanya sang pencinta budaya, bukan sosok keluaran institusi yang senantiasa mendengungkan Vivat academia.  Sampai di sini aku berdiam diri sambil merenung. Buk...